26 Oktober 2025
Share:

Bisnissawit.com – Industri kelapa sawit Indonesia kini menghadapi perubahan struktur penguasaan yang signifikan setelah data terbaru menyebutkan bahwa sepuluh grup perusahaan besar menguasai kolektif lahan sawit lebih dari 2,7 juta hektar.

Komoditas ini tetap menempati posisi strategis bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit mentah atau CPO terbesar di dunia, namun kini kondisi persaingan dan kepemilikan aset utama, yakni lahan perkebunan – menunjukkan dinamika baru.

Di puncak daftar, muncul PalmCo, subholding BUMN yang dibentuk melalui konsolidasi besar-besaran, menguasai sekitar 586.000 hektar lahan sawit Indonesia. Langkah ini menandai pergeseran kekuatan dari swasta ke BUMN dalam skala besar di industri sawit nasional.

Mengikuti di belakang PalmCo, terdapat nama-nama raksasa seperti Golden Agri‑Resources (GAR) yang mengelola sekitar 536.000 hektar lahan, dan Astra Agro Lestari (AALI) dengan sekitar 284.800 hektar. Kedua perusahaan ini tetap menjadi pemain dominan dalam skema agribisnis sawit swasta yang terintegrasi.

Kemudian di posisi selanjutnya terdapat emiten dan perusahaan yang tercatat di bursa luar negeri, seperti First Resources Ltd, Wilmar International dan Bumitama Agri Ltd, yang masing-masing menguasai ratusan ribu hektar lahan di Indonesia meski berkantor pusat atau tercatat di luar negeri.

Sementara itu, di pasar domestik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa emiten seperti Salim Ivomas Pratama (SIMP), Sampoerna Agro (SGRO), Triputra Agro Persada (TAPG) dan Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) juga tercatat memiliki landbank yang cukup besar, memperkuat integrasi kaukus agribisnis lokal dalam rantai pasok sawit.

Dengan lebih dari 2,7 juta hektar lahan yang dikuasai oleh para raksasa ini, maka mereka tidak hanya memiliki pengaruh besar di pasar domestik, tetapi juga dalam rantai pasok global minyak nabati serta energi terbarukan.

Baca Juga:  Kerja Sama NISCOPS Tahap II, Indonesia–Belanda Fokus pada Petani Sawit Kecil

Perubahan peta penguasaan ini menjadi salah satu sinyal bahwa industri sawit Indonesia sedang memasuki babak baru, di mana kompetisi antara BUMN dan swasta semakin tajam, dan strategi bisnis yang berbasis keberlanjutan dan hilirisasi akan menjadi penentu ke depan. (*)

Sumber: CNBC Indonesia