Bisnissawit.com — Salah satu ancaman paling serius dalam pengembangan kelapa sawit adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama penyakit Ganoderma. Jika masalah ini tidak mampu ditangani dengan baik dalam 15–20 tahun ke depan, maka bukan tidak mungkin pada periode 2060–2070 kelapa sawit di Indonesia akan mengalami penurunan drastis hingga berisiko “hilang” dari keberadaannya.
Ganoderma menyebar melalui spora yang terdapat di dalam tanah. Keberadaannya kerap tidak terdeteksi, namun dampaknya sangat merusak. Ibarat “bahaya yang tersembunyi”, penyakit ini sering tidak terlihat di permukaan, tetapi tiba-tiba menyebar cepat dan menyebabkan banyak tanaman kelapa sawit roboh.
Saat ini, berbagai perusahaan perkebunan baik skala besar, menengah, maupun kecil mulai menghadapi kasus busuk pangkal batang akibat Ganoderma. Meski sebagian perusahaan memiliki dukungan dana yang cukup, pengendalian penyakit ini tetap tidak mudah. Beragam metode telah dilakukan, termasuk memakai jasa pihak spesialis penanganan Ganoderma. Namun hasilnya berbeda-beda, ada yang sukses, ada yang hanya sebagian berhasil, bahkan ada yang tidak menunjukkan hasil.
Kondisi di tingkat petani dinilai jauh lebih memprihatinkan. Tanpa serangan Ganoderma pun, produktivitas kebun petani masih banyak yang rendah. Ketika Ganoderma menyerang, produksi dapat turun tajam. Secara ekonomi, hal ini berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga petani, bahkan membuat sebagian pekebun sawit yang sebelumnya berada pada kelompok ekonomi menengah terpaksa turun kelas menjadi rentan miskin akibat hasil kebun yang terus menurun.
“Saya sudah banyak berkeliling ke kebun petani yang terkena Ganoderma. Banyak yang tidak menyadari pohonnya sudah terkena. Ada yang sebenarnya paham, tetapi tidak melakukan apa pun karena tidak tahu cara mengendalikannya. Ada juga yang mengerti langkah pengendalian, namun keterbatasan biaya perawatan kebun membuatnya terpaksa dibiarkan. Akhirnya mereka hanya bisa melihat pohon sawit tiba-tiba tumbang,” ujar Hendra J. Purba, Pemimpin Usaha Media Perkebunan.
Karena itu, para petani maupun pekerja perusahaan perkebunan mulai dari bagian pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, hingga agronom perlu memahami tanda-tanda awal Ganoderma dan lebih peduli terhadap keberadaannya. Deteksi dini dan tindakan pencegahan menjadi langkah penting agar penyebaran penyakit tidak meluas ke area lain serta dapat ditangani sebelum menimbulkan kerugian lebih besar.
Sebagai bentuk upaya meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman, Media Perkebunan akan menerbitkan Buku Saku Ganoderma berjudul “Kiat Sukses Mengendalikan Ganoderma”. Buku ini diharapkan dapat membantu pekebun maupun pihak yang terlibat dalam pengelolaan kebun sawit agar lebih mengenali Ganoderma, lebih sadar terhadap ancamannya, serta terdorong untuk melakukan langkah nyata, sehingga prediksi punahnya sawit akibat penyakit ini tidak menjadi kenyataan.
Buku tersebut ditulis oleh Dadang Gusyana, seorang agronom yang tergabung dalam berbagai asosiasi profesi agronomi, baik nasional maupun internasional. Materi di dalamnya disusun dengan bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan pembaruan informasi terbaru dari 2nd ISGANO yang dirangkum oleh tim Media Perkebunan. Dengan begitu, buku saku ini diharapkan mampu menyajikan informasi yang ringkas namun tetap menyeluruh mengenai Ganoderma dan penanganannya.