17 April 2025
Share:

Bisnissawit.com – Presiden terpilih Prabowo Subianto menjadikan hilirisasi pertanian sebagai salah satu agenda strategis pemerintahannya. Namun, menurut Prof. Bungaran Saragih, hilirisasi tidak akan berjalan optimal tanpa fondasi sistem agribisnis yang kokoh. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara “80 Tahun Prof. Bungaran Saragih: Revisit Pemikiran Agribisnis sebagai Dasar Strategi Reindustrialisasi”.

Menurut Bungaran, pertumbuhan ekonomi nasional perlu ditingkatkan dari rerata 5% menjadi 8% per tahun jika Indonesia ingin mencapai status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045. Dengan pendapatan per kapita Indonesia saat ini yang berada di angka sekitar USD5.000, dibutuhkan loncatan menuju angka USD21.000 dalam dua dekade mendatang. Target ambisius ini tak bisa dilepaskan dari penguatan sektor pangan dan energi nasional.

Ia menekankan, ketahanan pangan dan energi tak bisa digantungkan pada pasar global. Ketergantungan terhadap impor komoditas seperti gandum, kedelai, gula, dan susu harus diakhiri melalui pembangunan kemandirian pangan dan pengembangan energi terbarukan seperti biofuel. Di sinilah hilirisasi pertanian memainkan peran penting.

Bungaran mengingatkan kembali kisah keberhasilan Indonesia meraih swasembada pangan di era Presiden Soeharto yang diakui FAO. Namun saat itu, arah pembangunan bergeser ke industrialisasi tanpa mempertimbangkan pengembangan industri berbasis sumber daya pertanian (agroindustri). Kini, ia bersyukur karena arah itu kembali dihidupkan di masa pemerintahan Prabowo.

Agar hilirisasi pertanian berhasil, ia menyarankan agar desain kebijakan disampaikan langsung kepada Bappenas, sebagai lembaga perencana jangka panjang negara. Menurutnya, pelibatan IPB dan akademisi penting untuk merumuskan konsep hilirisasi secara komprehensif. “Presiden harus tahu, ini bukan semata urusan Kementerian Pertanian atau Perindustrian. Ini strategi lintas sektoral,” ujarnya.

Hilirisasi pertanian yang dimaksud bukan sekadar pengolahan bahan baku menjadi produk setengah jadi, tetapi juga pengembangan industri pangan dan energi berbasis hasil pertanian, seperti biodiesel, bioetanol, hingga avtur dari sawit. Meskipun beberapa produk sudah hadir di pasaran, menurut Bungaran, nilai tambah agroindustri Indonesia masih rendah, rata-rata baru 1 kali lipat dari sektor hulunya. Padahal di sektor kopi, nilai tambah bisa meningkat hingga ribuan kali dari biji ke cangkir.

Baca Juga:  APPKSI Kirim Surat ke Presiden Joko Widodo, Protes PKS Tanpa Kebun

Tahun 2023, nilai tambah agroindustri tercatat Rp1.648 triliun. Bungaran memperkirakan, melalui hilirisasi yang optimal, nilai tersebut bisa melonjak hingga Rp4.000–14.000 triliun. Peluang ekspor juga besar, baik untuk pasar regional maupun global. Bahkan hilirisasi bisa menjadi solusi substitusi impor bahan bakar fosil yang selama ini membebani devisa negara.

Namun hilirisasi tidak akan tumbuh berkelanjutan jika bahan baku dari sektor hulu (on farm) tidak tersedia. Karena itu, Bungaran menekankan pentingnya “huluisasi” — penguatan sektor hulu melalui kemitraan antara perusahaan dan petani. Tanpa dukungan ini, ekonomi berisiko mengalami decoupling: industri hilir berkembang tapi tak menyentuh akar ekonomi rakyat.

Bungaran juga menyoroti ancaman industri hilir pertanian yang sepenuhnya berbasis impor, seperti mie instan yang bahan bakunya 100% dari luar negeri. Meski produknya sukses secara global, kontribusinya terhadap ekonomi nasional sangat terbatas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa hilirisasi harus didukung ekosistem pendukung: infrastruktur, transportasi, pembiayaan, pendidikan, riset, dan layanan teknis. Jika riset tidak dikembangkan, maka industri hilir pun akan mandek. Karena itu, sistem agribisnis yang terintegrasi—dari hulu ke hilir, dengan digitalisasi dan dukungan institusi riset—perlu terus dibangun.

Bungaran menyayangkan bahwa selama ini hilirisasi tambang menjadi prioritas, padahal sektor pertanian memiliki efek ganda (multiplier effect) yang sangat besar bagi ekonomi dan pembangunan daerah. Pertanian yang kuat berarti pembangunan wilayah yang merata, peningkatan pendapatan petani, serta pengentasan kemiskinan.

Ia menutup dengan mencontohkan sektor sawit dan unggas sebagai dua model kemitraan yang berhasil membawa petani naik kelas menjadi masyarakat menengah. “Kalau hilirisasi pertanian berjalan dengan baik, kita akan sejahtera bersama sebagai bangsa,” pungkas Bungaran.