Bisnissawit.com — Di tengah tekanan harga minyak sawit mentah (CPO) yang belum kunjung pulih, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) tetap percaya diri melangkah dengan sederet taktik untuk menjaga performa bisnis. Saat ini, harga CPO bertengger di level MYR 4.149 per ton, turun 1,31% dalam sepekan, dan anjlok 13,97% dalam setahun terakhir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga minyak nabati lain seperti kedelai yang justru menguat.
Direktur Utama ANJT, Suhendro, optimistis harga CPO punya peluang rebound karena harganya yang kini relatif rendah bisa mendorong pergeseran konsumen dari minyak nabati lain ke minyak sawit. “Kami tetap optimistis, apalagi menjelang akhir tahun harga CPO biasanya naik. Fokus kami adalah memperkuat kinerja operasional agar bisa menjawab permintaan pasar,” ujarnya dalam paparan publik virtual, Kamis (6/11/2025).
Untuk menjaga tren pertumbuhan, ANJT menyiapkan sejumlah langkah strategis: memperkuat bisnis inti, menjaga keseimbangan usia tanaman, efisiensi biaya, serta menerapkan praktik terbaik agronomi. Perusahaan juga akan membangun sinergi dengan entitas di bawah First Resources Limited (FRL), pengendali baru ANJT yang mengakuisisi saham senilai Rp 5,54 triliun. Di sisi perkebunan, ANJT terus menjalankan program replanting agar usia tanaman tetap produktif, di mana hingga 2025 sudah ada 13.207 hektare yang diremajakan.
Langkah efisiensi juga dijalankan lewat evaluasi biaya dan pengoptimalan proses bisnis. Dari sisi keberlanjutan, ANJT berkomitmen menjaga praktik berstandar RSPO, seperti konservasi burung hantu untuk mengendalikan hama tikus secara alami. “Kami ingin tetap beroperasi secara bertanggung jawab dan meraih nilai premium dari pasar global yang menghargai praktik berkelanjutan,” tambah Suhendro.
Hasilnya mulai terlihat dari laporan keuangan sembilan bulan pertama 2025. ANJT mencatat pendapatan US$ 187,78 juta, naik 11,5% dari tahun sebelumnya. Laba bruto melesat 89% menjadi US$ 50,18 juta, sementara laba usaha melonjak 148% ke US$ 40,36 juta. Bahkan, laba bersih periode berjalan terbang 2.195% menjadi US$ 23,89 juta dibanding US$ 1,04 juta tahun lalu. Laba per saham dasar pun ikut melejit 1.700% menjadi US$ 0,0072.
Dari sisi neraca, aset ANJT naik 3,8% menjadi US$ 595 juta dengan ekuitas menebal 4,7% ke US$ 410,49 juta. Meskipun tekanan kurs masih jadi tantangan, kinerja keuangan ANJT menunjukkan bahwa strategi efisiensi dan fokus pada bisnis inti berhasil menjaga laju pertumbuhan perusahaan di tengah turunnya harga CPO global.
Sumber: Investor.id