8 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – Produktivitas kelapa sawit Indonesia dinilai masih belum mencapai potensi maksimal meskipun Indonesia menjadi negara dengan luas perkebunan sawit terbesar di dunia. Penggunaan benih unggul bersertifikat, penerapan praktik budidaya terbaik atau best management practices (BMP), hingga pengelolaan penyerbukan disebut menjadi faktor utama dalam meningkatkan hasil produksi sawit nasional, terutama di wilayah pengembangan baru seperti Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hal tersebut disampaikan Dr. Yabani, S.P., M.M., dari PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dalam Workshop & Pasar Benih Sawit bertema “Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit” di Kendari.

Dalam pemaparannya, Yabani menjelaskan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati paling efisien dibandingkan komoditas lain. Bahkan, dari sisi produktivitas dan kemampuan menyerap karbon, sawit dinilai jauh lebih unggul.

“Bunga matahari 0,7 ton, kelapa sawit dengan produktivitas yang rendah saja sudah 3,3 ton. Bayangkan berapa jumlah luasan tutupan yang bisa diimbangi oleh sawit,” ujar Yabani.

Menurutnya, tingginya produktivitas sawit membuat komoditas ini memiliki posisi strategis sekaligus rentan terhadap berbagai isu negatif.

“Makanya komoditas sawit menjadi komoditas seksi untuk diberitakan buruk atau baik,” katanya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, luas perkebunan sawit Indonesia saat ini mencapai sekitar 16,83 juta hektare dengan rata-rata produktivitas sekitar 3,18 ton pada tahun 2024. Angka tersebut masih berada di bawah produktivitas Malaysia yang mencapai sekitar 3,7 ton.

Namun demikian, Yabani menilai capaian tersebut belum menggambarkan potensi produktivitas sawit Indonesia yang sebenarnya. Ia menyebut perusahaan besar yang telah menerapkan riset dan teknologi modern bahkan mampu menghasilkan lebih dari 6 ton crude palm oil (CPO) per hektare per tahun.

“Secara komersil perusahaan-perusahaan yang punya R&D sudah di atas 6 ton per hektar per tahun CPO. Karena 41 persen lahan dikuasai petani maka produktivitas kita rendah,” jelas Yabani.

Baca Juga:  BPS: Sawit Sumbang Surplus Rp300 Triliun Lebih di Januari–Juli 2025

Ia juga menyoroti rendahnya produktivitas sawit di Sultra yang baru mencapai sekitar 1,5 ton per hektare per tahun. Menurutnya, kondisi tersebut masih sangat mungkin ditingkatkan karena Sultra termasuk wilayah yang relatif baru dalam pengembangan kelapa sawit dibandingkan Sumatera maupun Riau.

Yabani menegaskan bahwa penggunaan benih unggul bersertifikat menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas sawit. Ia menilai banyak petani masih menganggap benih hanya sebagai faktor kecil dalam biaya produksi, padahal dampaknya sangat besar terhadap hasil kebun dalam jangka panjang.

“Secara komersil kelapa sawit bisa menghasilkan 6-8 ton CPO per hektar per tahun nasional dengan faktor utamanya adalah benih unggul,” katanya.

Dalam materi yang dipaparkan, benih unggul sawit disebut mampu menghasilkan potensi produksi tandan buah segar (TBS) hingga 32–39 ton per hektare per tahun dengan rendemen minyak mencapai 25–29 persen tergantung varietasnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap pohon induk yang dijadikan sumber benih harus memenuhi standar ketat, salah satunya mampu menghasilkan minimal 175 kilogram tandan per pohon per tahun dengan rendemen minyak di atas 23 persen.

Selain penggunaan benih unggul, Yabani juga menekankan pentingnya penerapan BMP di perkebunan sawit rakyat. Salah satu aspek yang sering dianggap sepele adalah pengelolaan pelepah dan penunasan tanaman.

“Penunasan jangan dianggap sepele. Kalau menunas terlalu asal efeknya 14-22 bulan ke depan banyak memunculkan bunga jantan walaupun material bapak material unggul,” jelasnya.

Menurut Yabani, tanaman sawit berusia di bawah delapan tahun idealnya memiliki 48–56 pelepah untuk mendukung fotosintesis, sedangkan tanaman di atas delapan tahun perlu mempertahankan sekitar 40–48 pelepah produktif.

Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan bunga jantan dan betina dipengaruhi kondisi tanaman 14–22 bulan sebelumnya. Kekurangan air maupun pemupukan yang tidak optimal akan meningkatkan pembentukan bunga jantan sehingga menurunkan fruit set atau keberhasilan pembentukan buah.

Baca Juga:  Petani Sawit Milenial Rela Tempuh Perjalanan 18 Jam Demi Ikut IPOSC 2024

Dalam hal pemupukan, Yabani mengingatkan pentingnya keseimbangan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.

“Prinsip NPKMg harus ada. Pupuk majemuk atau tunggal silakan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pengamatan rutin di lapangan oleh petani.

“Pupuk terbaik di lahan kita adalah kaki kita sendiri. Semakin sering kita kunjungi semakin kita tahu kebutuhan di kebun,” ujarnya.

Selain persoalan budidaya, Yabani turut menyoroti tantangan penyerbukan sawit di lapangan. Menurutnya, populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus mengalami penurunan kualitas akibat terlalu lama berkembang di Indonesia tanpa penambahan genetik baru.

“Dengan kondisi genetik Elaeidobius kita generasi 1000 persilangan jadi inbreeding depression terjadi, karakter terburuk terbentuk,” jelasnya.

Karena itu, melalui kerja sama BPDP, GAPKI, dan RPN PPKS, pemerintah kembali mendatangkan serangga penyerbuk baru dari Tanzania untuk memperbaiki kualitas penyerbukan sawit nasional.

“Kamerunicus, plagiatus, dan subtitatus didatangkan untuk membantu penyerbukan kelapa sawit supaya fruit set di atas 75 persen,” kata Yabani.

Ia juga mengingatkan petani di daerah pengembangan baru agar tidak sembarangan membuang bunga jantan pada tanaman muda karena sangat penting sebagai sumber makanan serangga penyerbuk.

“Pesan saya khusus daerah pengembangan, buang saja yang betinanya. Karena kalau dibuang jantannya umpan makanan serangga Elaeidobius tidak ada,” ujarnya.

Melalui workshop ini, Yabani berharap petani sawit di daerah 3T semakin memahami pentingnya penggunaan benih unggul dan penerapan praktik budidaya terbaik agar produktivitas sawit rakyat Indonesia terus meningkat dan mampu mendekati potensi optimalnya.