6 September 2025
Share:

Bisnissawit.com – Industri kelapa sawit Indonesia pada 2024 masih menunjukkan dominasi kuat di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Dari total 2.285 perusahaan perkebunan sawit yang tercatat di 29 provinsi, sebanyak 95,4 persen beroperasi di dua pulau tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, 52,69 persen perusahaan berada di Sumatra, sementara 42,71 persen di Kalimantan. Sementara pulau lain seperti Sulawesi hanya menampung 2,63 persen perusahaan sawit, meski mulai menunjukkan tren pertumbuhan.

Kontribusi Ekonomi Sawit

Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), nilai ekspor sawit Indonesia pada 2024 mencapai US$27,76 miliar atau sekitar Rp440 triliun. Angka ini turun 8,44 persen dibandingkan 2023 yang mencatatkan nilai ekspor US$30,32 miliar. Di sisi lain, konsumsi domestik justru naik 2,78 persen menjadi 23,85 juta ton sepanjang 2024.

Kelapa sawit tetap menjadi komoditas unggulan Indonesia, berperan sebagai penyumbang devisa terbesar dari sektor perkebunan sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Sebaran Perusahaan Sawit

Provinsi dengan jumlah perusahaan terbanyak adalah Kalimantan Barat, yakni 352 perusahaan. Disusul Sumatra Utara dengan 327 perusahaan, Kalimantan Timur 268 perusahaan, Riau 228 perusahaan, dan Kalimantan Tengah 216 perusahaan.

Di Sumatra, konsentrasi tertinggi ada di Sumatra Utara (27%), Riau (19%), dan Sumatra Selatan (16%). Sementara di Kalimantan, distribusi perusahaan relatif merata dengan proporsi 22–36 persen, kecuali Kalimantan Selatan (10%) dan Kalimantan Utara (4%).

Menariknya, seluruh provinsi di Sumatra dan Kalimantan memiliki perusahaan perkebunan sawit, menegaskan posisi kedua pulau ini sebagai sentra utama produksi kelapa sawit nasional.

Dominasi Swasta

Dari total perusahaan, sebanyak 2.127 atau mayoritas merupakan perkebunan swasta, sedangkan sisanya 158 adalah perkebunan besar negara (PBN). Fakta ini menunjukkan dominasi sektor swasta dalam mengelola industri sawit Indonesia. (*)

Baca Juga:  MGRO Anggarkan Rp20 Miliar untuk Buyback Saham, Ini Alasannya