23 Desember 2025
Share:

Bisnissawit.com – Anggota Komisi Promosi Sidang Doktor Sekolah Pascasarjana IPB sekaligus Menteri Pertanian RI periode 2000–2004, Bungaran Saragih, menilai kebijakan pengembangan biodiesel berbasis kelapa sawit telah memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi petani dan pelaku usaha, tetapi juga terhadap pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan Bungaran saat memberikan tanggapan atas hasil disertasi doktoral Gusti Artama Gultom dalam Sidang Promosi Doktor di Institut Pertanian Bogor, Senin (22/12/25). Menurut Bungaran, penelitian tersebut secara kuantitatif membuktikan keberhasilan kebijakan pemerintah di sektor sawit.

“Dari penelitian Dr. Gusti secara kuantitatif dia sudah menunjukkan bagaimana kebijakan pemerintah di bidang sawit hingga saat ini telah memberikan dampak yang baik buat para petani, buat para pengusaha, buat pasar internasional,” ujar Bungaran.

Ia menegaskan, salah satu temuan penting dari penelitian tersebut adalah perubahan posisi Indonesia dalam pasar sawit global. Jika sebelumnya harga sawit internasional ditentukan oleh negara lain, kini Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penentu harga.

“Pertama sekali orang Indonesia atau kebijakan pemerintah Indonesia bisa menentukan harga internasional. Selama ini orang lain yang menentukan. Tapi sesudah kebijakan pengembangan biodiesel, Indonesia sudah menjadi price maker dari sawit internasional,” tegasnya.

Menurut Bungaran, temuan ini merupakan informasi strategis yang seharusnya dimanfaatkan sebagai dasar penguatan dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit nasional.

“Itu informasi yang sangat berguna dan hendaknya itu menjadi informasi yang dipakai untuk lebih meyakinkan kita bagaimana sawit itu perlu mendapat perhatian dan mendapat support dari pemerintah,” lanjutnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai pihak yang paling diuntungkan dari program biodiesel, Bungaran menilai manfaat kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan oleh petani dan perusahaan di dalam negeri, tetapi juga berdampak secara global.

“Penelitiannya memang melihat kepada petani, tetapi juga dia lihat perusahaan. Tapi kalau menurut saya, petani dunia juga beruntung, karena harga internasional naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tanpa adanya kebijakan biodiesel, harga sawit internasional berpotensi mengalami penurunan tajam yang dapat merugikan banyak pihak.

“Kalau belum ada biodiesel dulu, harga sawit internasional sudah turun, bahkan sampai banyak yang merugi,” kata Bungaran.

Meski demikian, Bungaran mengingatkan agar kebijakan biodiesel ke depan dijalankan secara hati-hati dan proporsional. Ia menekankan pentingnya mencari kebijakan yang optimal, bukan berlebihan.

“Kebijakan pemerintah mengenai biodiesel itu sudah benar dan sudah baik. Tapi harus lebih hati-hati lagi pada masa-masa yang akan datang. Jangan overdo,” pesannya.

Menurut Bungaran, kebijakan optimum diperlukan agar manfaat biodiesel dapat dirasakan lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Harus dicari kebijakan optimum yang bisa memberikan manfaat kepada lebih banyak pihak, tidak hanya dalam negeri tetapi juga internasional,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:  P3PI Menanggapi Kesalahan Pemberitaan Penyampaian Istilah POMEO