Bisnissawit.com – Dalam gelaran IPOC 2025, Alain Rival selaku Senior Project Manager CIRAD menegaskan bahwa minyak kelapa sawit memegang peranan besar dalam pasar minyak nabati dunia. Hingga saat ini, sawit menyumbang sekitar 35% dari suplai global, namun hanya memerlukan kurang dari 10% total lahan yang digunakan oleh seluruh tanaman penghasil minyak nabati.
Untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit, hanya dibutuhkan sekitar 0,26 hektare lahan—jauh lebih efisien dibanding rapeseed (1,25 hektare), bunga matahari (1,43 hektare), maupun kedelai (hingga 2 hektare). Meski demikian, ekspansi kebun sawit terus meningkat signifikan sejak 2000 hingga 2020, dari 13,9 juta hektare menjadi 28,4 juta hektare. Pertumbuhan industri ini memberikan tekanan tersendiri terhadap lingkungan.
Rival menekankan perlunya transformasi teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan dampak lingkungan. Teknologi seperti drone, IoT, dan kecerdasan buatan dinilai mampu mengoptimalkan hasil kebun serta mengurangi kehilangan panen. Namun, adopsi teknologi masih rendah di kalangan petani kecil, baru sekitar 25% yang memanfaatkan teknologi digital, terutama karena kendala jaringan, biaya perangkat, dan rendahnya literasi digital, terutama bagi perempuan dan petani di desa.
Situasi pasar minyak sawit pun masih dipengaruhi berbagai ketidakpastian, mulai dari kebijakan biodiesel yang mendorong permintaan domestik, gangguan cuaca ekstrem seperti El Niño yang menurunkan produksi, hingga fluktuasi nilai tukar yang berdampak pada ekspor. Tingkat kepatuhan terhadap sertifikasi keberlanjutan juga masih rendah, baru 17% kebun rakyat yang bersertifikat.
Isu ketimpangan gender pun mencuat, mengingat perempuan hanya menguasai kurang dari 15% lahan pertanian. Kondisi tenaga kerja, terutama pekerja migran, juga belum sepenuhnya terlindungi.
Di sisi lain, rantai pasok minyak sawit masih dihadapkan pada struktur yang rumit dan tidak merata. Pasokan yang terserak dari petani kecil, ditambah kepemilikan tanah yang tidak seragam, membuat proses pengumpulan TBS menjadi tantangan tersendiri. Sekitar 2.000 pabrik pengolahan menampung TBS dari berbagai sumber, yang sering kali berujung pada pencampuran.
Biaya untuk mendapatkan sertifikat keberlanjutan pun masih membebani produsen. Perkebunan besar harus mengeluarkan biaya USD 8–10 per ton, perkebunan menengah USD 15–20 per ton, sementara petani kecil menanggung biaya jauh lebih besar, yakni USD 30–40 per ton.
Meski begitu, sertifikasi tetap memberikan manfaat nyata. Minyak sawit bersertifikat berpeluang mendapat premi harga 3–8%. Jika didukung koperasi petani kecil yang inklusif dan mampu mengelola sertifikasi serta pemasaran secara kolektif, maka pendapatan anggotanya bisa meningkat 15–20%.