4 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia kembali menguat tipis pada perdagangan Rabu, setelah sempat terkoreksi dalam dua sesi sebelumnya. Penguatan ini mengikuti kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian, meski laju kenaikan masih tertahan oleh penguatan ringgit serta pelemahan harga soyoil di Chicago.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik 5 ringgit atau 0,12% menjadi 4.220 ringgit per ton saat jeda siang. Secara nilai, harga tersebut setara sekitar USD1.075 per ton.

Pelaku pasar di Kuala Lumpur menyebut pergerakan CPO saat ini masih sangat dipengaruhi dinamika di bursa Dalian. Investor juga menunggu sentimen baru dari Palm Oil Conference yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Di pasar Tiongkok, kontrak soyoil paling aktif di Dalian Commodity Exchange menguat 0,25%, sementara kontrak minyak sawit naik 0,33%. Sebaliknya, harga soyoil di Chicago Board of Trade (CBOT) justru turun 0,18%. Pergerakan ini penting karena CPO bersaing langsung dengan minyak nabati lain dalam memperebutkan pangsa pasar global.

Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia yang menjadi denominasi perdagangan CPO menguat 0,13% terhadap dolar AS. Penguatan ini membuat harga sawit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.

Namun, sentimen fundamental masih cukup positif. Ekspor produk sawit Malaysia pada Januari diperkirakan melonjak antara 14,9% hingga 17,9% secara bulanan, berdasarkan data AmSpec Agri Malaysia dan Intertek Testing Services.

Di sisi lain, impor minyak sawit India pada Januari dilaporkan melonjak 51% ke level tertinggi dalam empat bulan. Kenaikan ini dipicu harga sawit yang lebih kompetitif dibandingkan soyoil, sehingga kilang di India meningkatkan pembelian CPO dan memangkas impor soyoil ke posisi terendah dalam 19 bulan.

Baca Juga:  Tantangan Kemitraan Kelapa Sawit, Ditjen Perkebunan: Jadikan Kemitraan sebagai Kerja Sama bukan Kompetisi

Secara teknikal, analis komoditas Wang Tao dari Reuters menilai harga CPO berpeluang menguji level support di 4.201 ringgit per ton. Jika tembus, harga berisiko terkoreksi ke rentang 4.115–4.158 ringgit per ton.

Sumber: Reuters