14 Januari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali mencatatkan penguatan untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (13/1). Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya harga minyak nabati pesaing di pasar global serta lonjakan kinerja ekspor Malaysia pada awal Januari.

Kontrak referensi CPO pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 41 ringgit atau sekitar 1 persen ke level 4.131 ringgit per ton pada jeda perdagangan siang hari. Penguatan ini mencerminkan sentimen positif pasar terhadap pergerakan minyak nabati dunia, sebagaimana dilaporkan Reuters dari Kuala Lumpur.

Pelaku pasar menyebutkan bahwa reli harga CPO sejalan dengan kenaikan harga minyak nabati berbasis biji-bijian. Saat ini, kontrak CPO dinilai cukup stabil bertahan di atas ambang 4.100 ringgit per ton, ditopang kombinasi faktor teknikal dan data ekspor periode 1–10 Januari yang menunjukkan peningkatan signifikan.

Berdasarkan estimasi lembaga survei kargo, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 10 hari pertama Januari melonjak sekitar 17,7 hingga 29,2 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Data ini memperkuat optimisme pasar terhadap permintaan jangka pendek.

Dari Indonesia, seorang pejabat pemerintah menyampaikan bahwa rencana penerapan kebijakan biodiesel B50 masih sangat bergantung pada selisih harga antara minyak mentah global dan CPO. Kebijakan tersebut baru akan dijalankan jika kondisi harga dinilai mendukung secara ekonomi.

Di pasar internasional, harga minyak kedelai di Dalian tercatat naik 0,43 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melesat 1,62 persen. Penguatan juga terjadi pada minyak kedelai di Chicago Board of Trade yang naik 0,62 persen. Secara historis, pergerakan CPO memang cenderung mengikuti tren minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pasar minyak nabati global.

Baca Juga:  Harga TBS Jambi Periode 8–14 Agustus 2025 Menguat, CPO dan PK Naik Serentak

Harga minyak mentah dunia turut bergerak naik, didorong kekhawatiran geopolitik terkait Iran yang berpotensi mengganggu pasokan, meskipun ada prospek tambahan suplai dari Venezuela. Kenaikan harga minyak mentah ini turut meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.

Meski demikian, ruang penguatan harga CPO masih dibayangi oleh tingginya stok di Malaysia. Persediaan pada Desember dilaporkan melonjak mendekati level tertinggi dalam hampir tujuh tahun, menembus angka psikologis 3 juta ton. Lonjakan stok tersebut dipicu oleh produksi bulanan yang sangat kuat, sementara pemulihan ekspor belum sepenuhnya sebanding.

Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit sekitar 0,15 persen terhadap dolar AS turut menjadi faktor penahan, karena membuat harga CPO relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Dari sisi teknikal, analis Reuters memperkirakan harga CPO masih berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area 4.180 ringgit per ton, setelah berhasil menembus level resistance penting di kisaran 4.099 ringgit.

Sumber: Reuters