17 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu, seiring penurunan harga minyak dunia dan sentimen geopolitik yang belum mereda. Pelemahan ini juga dipicu oleh pergerakan minyak nabati di pasar global serta turunnya minat terhadap sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Mengacu pada laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 63 ringgit atau sekitar 1,39% ke level 4.474 ringgit (USD1.132,37) per metrik ton pada jeda tengah hari di Kuala Lumpur.

Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menilai bahwa pergerakan harga sawit saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan fundamental pasar.
“Segalanya bergantung pada sentimen minyak mentah dan perkembangan negosiasi untuk mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelemahan harga minyak mentah global serta penurunan harga di pasar Dalian menjadi faktor utama yang menekan pasar sawit. Bahkan, harga minyak dunia tercatat turun sekitar 4% akibat munculnya harapan gencatan senjata di Timur Tengah yang berpotensi mengurangi gangguan pasokan.

Penurunan harga minyak mentah ini turut berdampak pada daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel yang menjadi lebih rendah. Di sisi lain, permintaan global juga menunjukkan pelemahan.

Beberapa pelaku industri menyebutkan bahwa kilang minyak nabati di India mulai mengurangi pembelian, baik untuk minyak sawit, kedelai, maupun bunga matahari. Langkah ini dilakukan karena pasar memperkirakan lonjakan harga akibat konflik Iran tidak akan bertahan lama.

Di pasar lain, tren penurunan juga terlihat. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,84%, sementara kontrak minyak sawitnya melemah 1,63%. Sementara itu, di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga terkoreksi sebesar 0,56%.

Baca Juga:  Petani Sawit Swadaya Anggota SPKS Terima Sertifikasi RSPO di Thailand

Pergerakan harga CPO memang cenderung mengikuti minyak nabati pesaingnya karena bersaing dalam pasar global. Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data ekspor minyak sawit Malaysia periode 1–25 Maret yang diperkirakan akan memberikan arah lanjutan bagi pergerakan harga.

Di sisi mata uang, ringgit Malaysia tercatat menguat tipis 0,05% terhadap dolar AS, yang turut membuat harga CPO menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli internasional.

Sumber: Indopremier.com