Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin dan mencatat penguatan harian terbesar sejak akhir Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh reli harga minyak nabati pesaing, penguatan harga minyak mentah dunia, serta pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 93 ringgit atau sekitar 2,1% menjadi 4.530 ringgit Malaysia per ton metrik hingga sesi jeda siang. Penguatan tersebut memperpanjang tren kenaikan untuk hari kedua secara beruntun.
Meski demikian, pada pekan sebelumnya harga kontrak sawit sempat terkoreksi 1,89%, sekaligus menjadi penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Kondisi itu memicu aksi technical rebound di pasar.
Seorang trader di Kuala Lumpur mengatakan penguatan harga kali ini didorong kombinasi beberapa faktor eksternal, terutama reli minyak mentah dan kenaikan harga minyak kedelai (soyoil) di bursa Chicago. Selain itu, depresiasi ringgit turut meningkatkan daya saing ekspor sawit Malaysia.
“Kenaikan harga minyak mentah, penguatan soyoil Chicago, dan pelemahan ringgit memberikan sentimen positif bagi pasar. Technical rebound setelah tekanan harga sebelumnya juga ikut menopang pergerakan,” ujarnya.
Harga minyak mentah dunia sendiri terus menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Upaya penyelesaian konflik Iran disebut mengalami hambatan setelah fasilitas pembangkit listrik nuklir di Uni Emirat Arab dilaporkan diserang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga dikabarkan akan membahas opsi militer terhadap Iran.
Lonjakan harga minyak mentah tersebut meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel karena dinilai lebih kompetitif dibanding alternatif lainnya.
Di pasar komoditas lain, kontrak soyoil paling aktif di Bursa Dalian tercatat melemah tipis 0,07%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian justru naik 1,26%. Sementara itu, harga soyoil di Bursa Chicago melonjak 1,14%.
Pergerakan harga sawit global memang cenderung mengikuti tren minyak nabati pesaingnya karena seluruh komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati dunia.
Dari sisi kebijakan, pemerintah Malaysia menetapkan harga referensi CPO untuk periode Juni pada level yang mempertahankan tarif bea ekspor sebesar 10%.
Sementara itu, data perusahaan inspeksi AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Mei 2026 diperkirakan turun 16,5% dibandingkan periode sebelumnya.
Meski ekspor melemah, depresiasi ringgit sebesar 0,71% terhadap dolar AS membuat harga sawit menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Kondisi ini dinilai dapat membantu meningkatkan permintaan ekspor dalam jangka pendek.
Sumber: Indopremiere.com