Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali tergelincir dan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir. Tren pelemahan yang berkepanjangan ini menunjukkan betapa beratnya tekanan yang dihadapi komoditas unggulan tersebut di tengah melimpahnya pasokan dan penguatan mata uang ringgit Malaysia.
Pada perdagangan Rabu (5/11/2025), kontrak CPO untuk pengiriman Januari 2026 di Bursa Malaysia ditutup di level MYR 4.109 per ton, turun 0,82% dibandingkan hari sebelumnya. Angka itu menjadi posisi terendah sejak 7 Juli 2025. Dalam sepekan, harga CPO sudah anjlok 3,36%, sementara secara bulanan penurunan mencapai 7,37%.
Peningkatan stok menjadi faktor utama yang menekan harga. Data sementara menunjukkan persediaan CPO Malaysia pada Oktober diperkirakan naik 3,5% menjadi 2,44 juta ton, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) dijadwalkan merilis data resmi terkait produksi, ekspor, dan konsumsi pada 10 November mendatang, yang akan menjadi sorotan pasar.
Selain pasokan yang melimpah, penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat turut menekan harga CPO. Sebab, kontrak CPO dihargai dalam ringgit, sehingga penguatan mata uang tersebut membuat harga menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Secara teknikal, harga CPO saat ini berada di zona bearish dengan indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 29, menandakan kondisi jenuh jual (oversold). Indikator Stochastic RSI yang menyentuh angka nol juga memperkuat sinyal tekanan jual yang ekstrem. Meski begitu, peluang rebound tetap terbuka dengan titik pivot di MYR 4.150 per ton. Jika harga mampu menembus resisten di MYR 4.200 hingga 4.411 per ton, potensi kenaikan bisa terjadi. Namun, bila kembali melemah, level support berada di MYR 4.100 dan berisiko jatuh lebih dalam ke kisaran MYR 3.948 per ton.
Tren ini menunjukkan bahwa pergerakan harga CPO masih sensitif terhadap perubahan pasokan dan kurs ringgit. Investor dan pelaku pasar pun diimbau untuk terus mencermati rilis data MPOB yang bisa menjadi penentu arah harga sawit dalam waktu dekat.
Sumber: Bloomberg