3 Oktober 2025
Share:

Bisnissawit.com – Permintaan global terhadap minyak sawit kembali naik seiring pulihnya ekonomi dunia. Namun, agar momentum ini benar-benar memberi manfaat jangka panjang, industri sawit perlu bertransformasi menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Musdhalifah Machmud, Deputy Secretary General Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), dalam forum 2nd International Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025 di Jakarta.

Menurut Dr. Musdhalifah, tudingan bahwa kelapa sawit identik dengan deforestasi tidak sepenuhnya benar. Data menunjukkan tutupan hutan di negara produsen masih tinggi, seperti Indonesia 63%, Malaysia 62%, Kolombia 68%, dan Kongo 69%. Kondisi tersebut membuktikan bahwa sawit tetap bisa berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan, bahkan berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Ia menambahkan, keunggulan kelapa sawit terletak pada siklus produktifnya yang panjang, mencapai 25 tahun hanya dengan sekali tanam, serta efisiensi yang lebih tinggi dibanding tanaman minyak nabati lain. Perkembangan teknologi juga memungkinkan limbah sawit, baik cair maupun padat dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. “Kalau bicara green economy, palm oil justru bagian dari green economy,” tegasnya.

https://cpopc.net/main-pageDr. Musdhalifah juga menepis tudingan soal hilangnya keanekaragaman hayati akibat ekspansi perkebunan. Ia menyebut populasi satwa endemik, termasuk gajah di Indonesia, masih relatif stabil. Sejak 2014, Indonesia pun telah mengembangkan skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk memastikan praktik perkebunan sesuai standar keberlanjutan.

Meski demikian, ia menyoroti munculnya pesaing baru dari Amerika Latin yang kini mulai mengembangkan sawit sebagai komoditas unggulan. Karena itu, negara produsen harus menunjukkan data dan bukti nyata bahwa kelapa sawit bisa tumbuh tanpa merusak lingkungan. “Kalau ada pihak yang menyebarkan isu deforestasi, kita tunjukkan datanya,” ujarnya.

Baca Juga:  MGRO Anggarkan Rp20 Miliar untuk Buyback Saham, Ini Alasannya

Menutup paparannya, Dr. Musdhalifah mengajak semua pihak termasuk lembaga riset nasional untuk berkolaborasi. “Mari buktikan sawit bukan masalah, tapi solusi global menuju ekonomi hijau dan masa depan berkelanjutan. Kita ingin kejayaan sawit Indonesia hadir dengan dukungan CPOPC dan BRIN,” pungkasnya.