Bisnissawit.com — Transformasi berkelanjutan yang dijalankan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), dinilai bukan sekadar slogan. Danantara Asset Management (DAM) menilai modernisasi bisnis sawit yang dilakukan PalmCo sudah memasuki tahap eksekusi nyata dan menjadi fondasi penting untuk memperkuat kemandirian pangan, energi, serta kedaulatan ekonomi nasional.
Penilaian tersebut disampaikan Managing Director Business 2 Danantara, Setyanto Hantoro, saat melakukan kunjungan kerja perdananya ke PTPN IV Regional III di Riau, Rabu (21/01/2026). Kunjungan dilakukan di Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar. Turut mendampingi Managing Director Risk Management Danantara, Riko Banardi, Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa, serta jajaran manajemen regional.
Setyanto menegaskan transformasi sektor perkebunan tidak cukup berhenti di atas kertas. Menurutnya, yang terlihat di lapangan adalah komitmen serta keberanian PalmCo dalam menjalankan perubahan menyeluruh dari hulu sampai hilir, yang berdampak langsung pada penguatan pangan, energi, sekaligus ketahanan ekonomi nasional.
Riko Banardi juga menyampaikan hal serupa. Ia menyebut kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Danantara untuk memahami lebih dalam teknis bisnis sawit terintegrasi milik PalmCo, sehingga sinergi antara pemegang saham dan perusahaan dapat semakin solid ke depan. Ia mengaku bangga dengan PalmCo karena arah kinerja perusahaan dinilai jelas, baik dari sisi hasil maupun dampaknya. Riko juga mengapresiasi kepemimpinan Jatmiko dalam menyeimbangkan digitalisasi, mekanisasi, hingga penguatan sumber daya manusia.
Saat ini PalmCo mengelola lebih dari 600.000 hektare perkebunan sawit nasional. Dalam kunjungan tersebut, manajemen Danantara meninjau langsung rantai bisnis terintegrasi yang dibangun PalmCo, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan limbah sebagai sumber energi baru terbarukan.
Agenda kunjungan diawali dari pusat pembibitan di Kebun Sei Pagar, salah satu dari tujuh sentra pembibitan sawit unggul bersertifikat di Riau. Fasilitas ini menjadi penggerak program peremajaan sawit rakyat sejak 2021. Hingga kini, sebanyak 2,56 juta bibit sawit unggul telah disalurkan kepada lebih dari 8.900 petani.
Program tersebut ditujukan untuk memperkecil ketimpangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan yang selama ini menjadi tantangan struktural industri sawit nasional. Dalam proses pembibitan, PalmCo menggabungkan teknologi dan mekanisasi, mulai dari irigasi sprinkle, pemakaian drone sprayer, hingga pengembangan penangkaran serangga penyerbuk elaidobius.
Selain itu, digitalisasi juga menjadi pilar penting transformasi PalmCo. Sejumlah aplikasi internal seperti Digital Farming dan Agroview digunakan untuk mengendalikan biaya sekaligus mendorong produktivitas. Di lapangan, penerapan digital didukung dengan penggunaan peralatan mekanisasi seperti grabber dan spreader untuk panen maupun perawatan kebun.
Di sektor pengolahan, Danantara menyoroti penggunaan teknologi on-site seperti sistem Intank yang memungkinkan pemantauan stok minyak sawit mentah (CPO) secara real-time. Sinergi antara digitalisasi dan mekanisasi ini terlihat dari capaian PTPN IV Regional III sepanjang 2025.
Produksi tandan buah segar (TBS) inti regional ini meningkat 5,4 persen menjadi 1,6 juta ton, dengan produktivitas mencapai 24,07 ton TBS per hektare per tahun. Pabrik kelapa sawit membukukan produksi CPO sebesar 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton CPO per hektare per tahun, sementara produksi minyak inti sawit (PKO) mencapai 115.000 ton. Rendemen CPO tercatat 23,59 persen, melampaui target perusahaan.
Kontribusi Regional III ini turut menguatkan kinerja konsolidasi PalmCo. Secara total, perusahaan mencatat produktivitas CPO sebesar 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh 9 persen dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih PalmCo mencapai Rp 6,19 triliun, setara sekitar 170 persen dari target RKAP.
Setyanto menilai capaian itu mencerminkan praktik terbaik transformasi bisnis perkebunan yang modern, efisien, sekaligus berorientasi pada keberlanjutan. Ia melihat integrasi digitalisasi, mekanisasi, serta penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) bukan sekadar retorika, melainkan benar-benar dijalankan di lapangan.
Ia juga menilai PalmCo berpotensi menjadi contoh dalam mendukung visi Danantara sebagai sovereign wealth fund berkelas global, yang menekankan pengelolaan aset negara secara berkelanjutan demi menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Sementara itu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan transformasi yang berjalan merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia menyebut PalmCo mengikuti arahan Danantara dan BP BUMN dengan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, serta keberlanjutan, yang dijalankan secara bersamaan.
Di tengah tantangan global pada sektor pangan dan energi, langkah PalmCo menunjukkan modernisasi BUMN perkebunan bukan hanya berdampak pada kinerja korporasi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.