5 November 2025
Share:

Bisnissawit.com — Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma kini menjadi ancaman terbesar bagi keberlangsungan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Menurut Baginda Siagian, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan, jika tidak segera ditemukan solusi yang efektif, 15–20 tahun ke depan atau sekitar tahun 2060–2070, sawit Indonesia bisa benar-benar punah.

Ganoderma disebutnya seperti kapal selam di dalam tanah, tidak terlihat, tapi mematikan. Penyakit ini berkembang biak lewat spora dan mampu menyebar secara diam-diam hingga akhirnya menyebabkan banyak pohon sawit tumbang secara mendadak.

Ditjen Perkebunan kini menggandeng para ahli untuk menemukan cara pengendalian yang efisien, dengan dukungan pendanaan riset dari BPDPKS. Salah satu langkah konkret yang sedang dilakukan adalah eksplorasi sumber daya genetik ke Tanzania untuk memperkaya variasi genetik sawit, agar nantinya bisa dikembangkan varietas baru yang tahan terhadap Ganoderma.

Selain penyakit, perubahan iklim juga menjadi ancaman besar. Masalah ketersediaan air dan menurunnya daya dukung lingkungan membuat kondisi perkebunan semakin rentan. Jika dibiarkan, kombinasi perubahan iklim dan serangan Ganoderma bisa membuat 41 persen lahan sawit tidak bisa lagi ditanami pada tahun 2050, bahkan mencapai 100 persen pada tahun 2100.

Kendala lain yang tak kalah serius adalah masih banyaknya petani yang menggunakan benih sawit ilegitim. Berdasarkan survei, sekitar 45 persen petani swadaya di Sumatera Selatan dan 71 persen di Riau memakai benih tidak bersertifikat. Pemerintah berkomitmen memperbaiki situasi ini agar produktivitas sawit nasional tidak terus menurun.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Baginda tetap optimis bahwa sawit akan tetap menjadi komoditas minyak nabati utama dunia dalam 20–30 tahun mendatang. USDA bahkan memproyeksikan hingga tahun 2045, konsumsi dan produksi minyak sawit masih akan lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.

Baca Juga:  Kerja Sama NISCOPS Tahap II, Indonesia–Belanda Fokus pada Petani Sawit Kecil

“Pemerintah akan menjaga agar produktivitas sawit tidak turun. Permintaan biodiesel terus meningkat, dan kalau produksi stagnan, maka ekspor yang akan tertekan,” ujar Baginda.

Data menunjukkan, produksi CPO pada 2023 mencapai 50,36 juta ton dengan ekspor 31,17 juta ton. Tahun 2024 produksi menurun menjadi 49,05 juta ton dengan ekspor 30,05 juta ton. Tahun 2025 diperkirakan produksi naik ke 50,29 juta ton, namun ekspor kembali turun ke 29,33 juta ton. Pada 2026, meski produksi naik tipis ke 51,13 juta ton, ekspor justru merosot ke 26,63 juta ton, terendah sejak 2020.

Menurut Baginda, untuk menjaga posisi Indonesia sebagai penentu harga minyak sawit dunia, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama. Saat ini produktivitas rata-rata masih 3,52 ton per hektare. “Tidak usah terlalu muluk, kalau bisa naik ke 5 ton per hektare saja sudah bagus. Kalau tidak meningkat sampai 2045, ekspor minyak sawit kita bisa terus menurun,” tutupnya. (*)