18 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – PT Astra Agro Lestari (AALI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cukup kuat pada kuartal I 2026. Emiten perkebunan sawit tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp373 miliar atau naik 34,8% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kinerja positif ini dinilai menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah tantangan produksi musiman dan fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global.

Mengacu pada riset Ciptadana Sekuritas Asia tertanggal 13 Mei 2026, pendapatan AALI tumbuh 6,8% secara tahunan menjadi Rp7,5 triliun pada tiga bulan pertama 2026. Sementara itu, laba operasional melonjak 51,9% YoY menjadi Rp725 miliar.

Meski margin laba kotor turun menjadi 15,5% dari sebelumnya 20,9% pada kuartal sebelumnya akibat meningkatnya biaya produksi, perusahaan tetap mampu mencatat kenaikan laba bersih yang signifikan.

Dari sisi operasional, produksi tandan buah segar (FFB) tercatat turun 4,5% menjadi 835 ribu ton akibat faktor musiman. Produksi CPO juga terkoreksi 4,1% menjadi 259 ribu ton. Namun, efisiensi operasional dinilai masih terjaga, tercermin dari kenaikan oil extraction rate (OER) menjadi 19,5%.

Stabilnya harga jual rata-rata CPO turut menopang kinerja perseroan. Pada kuartal I 2026, average selling price (ASP) CPO AALI berada di level Rp14.556 per ton atau naik tipis 0,2% secara tahunan.

Kondisi tersebut didukung pelemahan rupiah dan meningkatnya kebutuhan domestik seiring transisi program biodiesel nasional dari B40 menuju B50. Di sisi lain, harga CPO Malaysia justru mengalami penurunan sekitar 11,4% YoY menjadi RM4.174 per ton karena tingginya stok persediaan di negara tersebut pada akhir 2025.

Melihat prospek ke depan, analis masih mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham AALI dengan target harga Rp11.600 per saham, sedikit turun dibanding target sebelumnya Rp11.700.

Baca Juga:  Angka Produksi Minyak Sawit Tahun 2023 Alami Kenaikan

Dengan harga saham terakhir di level Rp8.075, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 43,7%. Valuasi AALI juga dinilai masih menarik dengan estimasi PER 2026 sebesar 9,2 kali dan PBV 0,6 kali.

Selain itu, perusahaan diperkirakan memiliki posisi keuangan yang cukup sehat dengan status net cash serta estimasi dividend yield sekitar 2,5% pada 2026.

Meski demikian, investor masih mencermati sejumlah faktor risiko, termasuk dampak keluarnya AALI dari indeks MSCI Small Cap, kondisi cuaca, hingga usia tanaman sawit yang relatif tua.

Saat ini sekitar 42% pohon sawit milik AALI diketahui telah berusia lebih dari 19 tahun. Karena itu, keberhasilan program replanting atau peremajaan kebun menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas dan pertumbuhan produksi jangka panjang perusahaan.

Secara keseluruhan, kinerja AALI pada awal 2026 menunjukkan pertumbuhan laba yang tetap solid meskipun produksi mengalami tekanan musiman. Ke depan, pasar diperkirakan akan menyoroti pemulihan produksi pada semester II 2026, arah harga CPO global, serta pengaruh implementasi program biodiesel nasional terhadap permintaan sawit domestik.

Sumber: Bareksa.com