19 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Peserta 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 mendapat kesempatan melihat langsung praktik pengendalian penyakit Ganoderma di Kebun Tanah Gambus milik PT Socfin Indonesia (Socfindo). Kunjungan ini menjadi momen penting untuk memahami bagaimana riset, produksi benih, dan penerapan teknis di lapangan diintegrasikan dalam satu sistem pengendalian yang menyeluruh.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari peneliti, praktisi perkebunan, akademisi, hingga planters. Mereka diajak menelusuri tahapan pengelolaan Ganoderma berbasis sains, dimulai dari Laboratorium Patologi hingga nursery, untuk melihat proses seleksi dan pengujian ketahanan tanaman terhadap penyakit tersebut.

Manager Socfindo Seed Production & Laboratories (SSPL), Dadang Afandi, menjelaskan bahwa laboratorium patologi memiliki peran penting dalam memastikan kualitas genetik tanaman yang tahan terhadap Ganoderma.

“Laboratorium patologi ini melakukan screening terhadap bahan genetik dan material tanam untuk mencari tanaman yang toleran terhadap penyakit Ganoderma. Semua proses dilakukan secara standar dan terkontrol untuk memastikan bahwa ketahanan yang dimiliki benar-benar karena faktor genetik,” jelas Dadang.

Laboratorium ini sendiri telah berdiri sejak tahun 2006 melalui kerja sama dengan lembaga riset asal Prancis, CIRAD. Seluruh proses pengujian dilakukan dengan metode yang telah distandarisasi, sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan ketahanan genetik tanaman tanpa dipengaruhi faktor luar.

Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Indra Syahputra, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kunjungan peserta dan menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan solusi pengendalian Ganoderma.

“Atas nama Socfindo, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Media Perkebunan, para planters, dan seluruh peserta yang hadir. Laboratorium ini dibangun tahun 2006 atas kolaborasi dengan CIRAD. Sejak saat itu, kami telah memiliki metode yang benar-benar standar. Jadi jika suatu material dinyatakan tahan Ganoderma, itu benar-benar karena alasan genetik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman untuk kemajuan industri sawit secara bersama-sama.

“Ini adalah proses sharing. Bukan karena kami lebih baik, tetapi bagaimana kita bisa saling belajar dan melakukan mutual improvement untuk kemajuan industri sawit bersama,” tambahnya.

Setelah dari laboratorium, peserta diajak melihat langsung proses pengujian di nursery, termasuk perbedaan respons tanaman yang memiliki tingkat ketahanan berbeda terhadap infeksi Ganoderma.

Baca Juga:  Harga CPO Tinggi, GAPKI Ingatkan Risiko Penurunan Ekspor

Kunjungan kemudian berlanjut ke lapangan. Di sana, Socfindo memperlihatkan praktik agronomi terbaik untuk menangani tanaman tua yang telah terinfeksi, termasuk proses pembongkaran pohon dan penghancuran tunggul akar (chipping). Langkah ini bertujuan untuk mengurangi sumber penyebaran patogen di kebun, sehingga risiko penularan ke tanaman sehat bisa ditekan.

Peserta juga diperlihatkan tanaman hasil seleksi yang telah memasuki masa panen pertama. Tanaman tersebut tetap menunjukkan pertumbuhan optimal dan produktivitas yang baik, meskipun berada di lingkungan dengan tekanan Ganoderma yang tinggi.

Sebagai bagian akhir, Socfindo mempresentasikan strategi replanting yang dirancang untuk meminimalkan infeksi pada siklus tanam berikutnya. Strategi ini mengombinasikan penggunaan bibit tahan penyakit, sanitasi lahan yang optimal, serta penerapan teknik budidaya yang disiplin.

Kunjungan lapangan ini menegaskan bahwa pengendalian Ganoderma tidak bisa dilakukan dengan satu metode saja. Pendekatan terpadu yang menggabungkan riset genetika, pengujian laboratorium, manajemen nursery, praktik agronomi, dan strategi tanam ulang menjadi kunci utama.

Kolaborasi antara lembaga riset, produsen benih, dan pengelola perkebunan pun menjadi fondasi penting untuk menghadapi Ganoderma, yang hingga kini masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlanjutan industri kelapa sawit.