20 Januari 2026
Share:

Bisnissawit.comGanoderma masih menjadi ancaman serius dalam bisnis kelapa sawit di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai penyebab busuk pangkal batang (BPB) yang mampu merusak tanaman, baik pada fase tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Dampaknya tidak main-main, karena serangan Ganoderma telah menimbulkan kerugian besar bagi agribisnis kelapa sawit.

Di sejumlah wilayah, intensitas serangan Ganoderma terus menunjukkan peningkatan, terutama pada kebun generasi kedua dan ketiga yang bahkan dilaporkan dapat mencapai 40 persen. Tidak hanya menyerang kebun lama, penyakit BPB kini juga mulai ditemukan pada kebun generasi pertama di daerah pengembangan baru, seperti Sulawesi dan Papua. Kondisi ini membuat upaya pengendalian semakin mendesak, mengingat kelapa sawit pada dasarnya memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap Ganoderma.

Ironisnya, pengembangan bahan tanaman yang tahan terhadap Ganoderma masih menghadapi berbagai kendala. Proses seleksi bibit tahan membutuhkan waktu panjang, sementara keragaman genetik bahan tanaman yang tersedia tergolong sempit. Di sisi lain, hasil analisis menggunakan metode RAPD dengan Internal Transcribed Spacer (ITS) DNA ribosom menunjukkan bahwa keragaman genetik Ganoderma justru cukup tinggi, yang membuat penyakit ini semakin sulit dikendalikan.

Kesulitan terbesar dalam pengendalian Ganoderma adalah deteksi dini yang tidak mudah dilakukan. Pada banyak kasus, gejala serangan baru terlihat ketika tanaman sudah memasuki fase yang sulit diselamatkan. Karena itu, dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi infeksi Ganoderma sejak awal, sebelum gejala visual muncul di lapangan.

Infeksi Ganoderma pada kelapa sawit diketahui diawali dengan kolonisasi hifa intraseluler yang tumbuh cepat dan lebat pada jaringan korteks. Setelah itu, patogen menghasilkan metabolit sekunder serta enzim-enzim ligninolitik yang berperan dalam proses perusakan jaringan tanaman. Keberadaan metabolit dan enzim inilah yang dinilai berpotensi dilacak menggunakan teknik serologi.

Baca Juga:  Tren Positif Harga TBS Sawit Mitra Plasma di Wilayah Timur Aceh

Teknik serologi dianggap memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode pelacak DNA. Selain prosesnya lebih cepat dan sederhana, teknik ini juga dinilai lebih mudah diaplikasikan di lapangan, terutama untuk pemeriksaan sampel dalam jumlah besar dengan biaya yang relatif lebih murah. Teknik ini disebut dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit BPB kelapa sawit secara praktis.

Ketersediaan perangkat deteksi dini dinilai penting untuk membantu monitoring serangan Ganoderma sekaligus melengkapi manajemen pengendalian terpadu. Konsep pengendalian tersebut diarahkan pada penyehatan lahan melalui kombinasi perlakuan biologi, kimia, fisik, serta mekanis. Agar lebih efektif, teknik serologi dinilai perlu dirakit menjadi perangkat diagnostik sederhana yang mudah dibawa dan digunakan di lapangan.

Hasil penelitian tim peneliti dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, yang kini menjadi PPKS Bogor, menunjukkan perangkat serologi mampu mendeteksi material antigenik Ganoderma yang diekstraksi dari miselium dengan kadar protein 123,13 hingga 207,5 mikrogram per mililiter. Deteksi tersebut terlihat dari munculnya spot atau bercak cokelat pada kertas uji yang cukup kuat. Spot itu terbentuk karena ekstrak miselium mengandung komponen antigenik yang bereaksi secara spesifik dengan antibodi IgY anti Ganoderma.

Dalam riset yang sama, peneliti juga menyebutkan bahwa pelukaan jaringan dan penempelan substrat kayu karet menjadi cara yang efektif untuk menginokulasi Ganoderma pada bibit kelapa sawit. Suharyono, salah seorang anggota tim peneliti, mengungkapkan bahwa bibit yang terinfeksi umumnya menunjukkan pertumbuhan yang terhambat, daun memucat atau mengalami klorosis, akar menjadi nekrosis dan membusuk.

Peneliti menduga pembusukan tersebut dipicu oleh enzim-enzim ligninolitik yang dihasilkan Ganoderma. Miselium muda diketahui mensekresi enzim aktif pendegradasi lignoselulosa seperti lakase, Mn-peroksidase, lignin peroksidase, hemiselulase, dan selulase. Sementara itu, bibit kelapa sawit yang tidak diinokulasi Ganoderma tetap menunjukkan kondisi akar yang sehat dan tidak nekrotik.

Baca Juga:  Pemerintah RI Beri Pesan ke Pemerintah Perancis Terkait EUDR dan CPO

Pengujian dengan perangkat serologi memperlihatkan spot yang kuat pada bibit sawit yang diinokulasi Ganoderma, sedangkan pada bibit sehat tidak ditemukan spot sama sekali. Penelitian juga menunjukkan bahwa deteksi paling kuat terjadi pada bagian pangkal batang dibandingkan akar dan daun.

Berdasarkan pengamatan semi-kuantitatif melalui teknik serologi, angka RGB pada sampel pangkal batang yang menjadi titik infeksi umumnya lebih rendah dibandingkan nilai RGB pada akar dan daun kelapa sawit sehat. Namun, pada uji akar bibit sawit yang diinokulasi, hasil yang diperoleh justru tidak sesuai dugaan karena nilai RGB-nya lebih tinggi dibandingkan akar bibit sehat. Penyebab ketidaksesuaian tersebut belum dapat dipastikan, namun pengamatan menunjukkan akar yang telah membusuk membuat sampel rusak sehingga teknik serologi tidak mampu mendeteksi secara optimal.

Hasil penelitian lainnya menyimpulkan bahwa teknik serologi dapat mendeteksi infeksi Ganoderma dari sampel daun, akar, dan batang pada berbagai kriteria gejala serangan. Reaksi paling kuat secara berurutan ditemukan pada sampel berkode merah atau stadium dua, kemudian kuning atau stadium satu, disusul hitam atau stadium tiga, sementara reaksi paling lemah terjadi pada sampel berkode hijau.

Meski sinyal pada kode hijau terbilang lemah, temuan ini menunjukkan kemungkinan tanaman tersebut sebenarnya sudah mulai terinfeksi meskipun gejala visual belum terlihat. Suharyono menjelaskan kondisi itu dapat terjadi karena tanaman berada di kebun yang sudah terserang Ganoderma dengan tingkat infestasi cukup tinggi, sekitar 10 hingga 20 persen, sehingga kontak akar antara tanaman sakit dan sehat mudah terjadi.

Menurut peneliti, bagian tanaman yang memberikan reaksi paling kuat dan konsisten adalah pangkal batang. Hal tersebut diperkirakan karena pangkal batang kaya substrat mudah tersedia seperti gula dan pati, sehingga konsentrasi serta aktivitas patogen di area itu lebih tinggi dibandingkan bagian tanaman lainnya.

Baca Juga:  Prospek Sawit 2026 Tetap Cerah di Tengah Tekanan Global

Pada stadium empat atau kode putih, tanaman sawit umumnya sudah tumbang dan tidak menyisakan tunggul, sehingga sampel yang digunakan adalah tanah. Namun pengujian terhadap sampel tanah tidak menunjukkan reaksi yang kuat antara antigen dan antibodi. Meski demikian, data RGB tetap memperlihatkan nilai pada sampel pangkal batang kode merah atau stadium dua lebih kecil dibandingkan kode sampel lainnya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa pangkal batang merupakan daerah utama kolonisasi dan perkembangan hifa tersier patogen Ganoderma.