2 November 2025
Share:

Bisnissawit.com – Semangat petani sawit di wilayah perbatasan Indonesia, tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terus tumbuh meski dihadapkan pada tantangan besar. Kabupaten yang dikenal sebagai Heart of Borneo ini memiliki dua taman nasional, Betung Kerihun dan Danau Sentarum dengan sekitar 56 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan lindung. Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi masyarakat harus dijalankan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan dan konservasi.

Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menggelar Pertemuan Teknis Petani Sawit di Putussibau, (30/10/25), bertajuk “Pengembangan Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)”. Kegiatan ini mempertemukan petani, pemerintah daerah, dan pelaku industri sawit dalam satu ruang dialog terbuka.

Acara tersebut mendapat dukungan dari Ketua DPRD Kapuas Hulu, Yanto SP, serta dihadiri langsung oleh Bupati Fransiskus Diaan, yang membuka kegiatan secara resmi. Kehadiran pimpinan daerah di forum ini menjadi penanda bahwa isu sawit bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga menyangkut kesejahteraan masyarakat dan tata kelola lingkungan yang lebih adil.

GAPKI, sebagai asosiasi yang menaungi pelaku usaha sawit nasional, turut hadir untuk memberikan pandangan strategis. Ketua Bidang SDM GAPKI, Sumarjono Saragih, menyampaikan bahwa keberlanjutan sektor sawit harus dimulai dari manusianya, yakni petani dan pekerja di lapangan.

“Selain bibit bersertifikat, petani sawit juga harus mendapat perlindungan sosial dan pengetahuan yang cukup. Mereka bekerja keras menjaga kebun, maka negara dan industri juga harus hadir memastikan mereka aman dan sejahtera,” ujar Sumarjono Saragih.

Ia menambahkan, penting bagi petani untuk memiliki jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan, karena kesejahteraan bukan hanya soal pendapatan hari ini, tetapi juga perlindungan di masa depan.

“Kesejahteraan petani tidak boleh berhenti di hasil panen. Harus ada jaminan sosial, kesehatan kerja, dan keselamatan di lapangan. Itu bagian dari sawit berkelanjutan yang sebenarnya,” tegasnya.

Tingginya antusiasme petani menjadi bukti bahwa mereka haus akan pendampingan. Lebih dari 150 petani hadir, melampaui kapasitas ruangan Hotel Grand Banana Putussibau. Para peserta datang dari berbagai kecamatan di Kapuas Hulu dengan harapan bisa memperoleh pengetahuan baru tentang bibit legal dan praktik budidaya yang sesuai standar keberlanjutan.

“Ketika lebih dari seratus lima puluh petani rela datang jauh-jauh ke Putussibau, itu menunjukkan semangat luar biasa. Ini tanda bahwa sawit masih menjadi harapan utama bagi masyarakat di daerah 3T,” tutur Sumarjono.

Selain aspek teknis budidaya, pertemuan ini juga menekankan pentingnya pembangunan manusia dalam ekosistem sawit. Isu-isu global seperti larangan pekerja anak, kesetaraan gender, dan keamanan bahan kimia menjadi topik yang perlu dipahami petani agar praktik mereka sejalan dengan standar pasar internasional.

Baca Juga:  Pengelolaan Lahan Sawit Berbasis Konservasi Dinilai Efektif Cegah Kerusakan Lingkungan

GAPKI juga mengusung model kolaborasi JAGA SAWITAN (Jaringan Ketenagakerjaan untuk Sawit Berkelanjutan), yang selama ini menjadi platform dialog antara GAPKI dan serikat pekerja JAPBUSI. Model ini terbukti efektif dalam menyelesaikan isu perburuhan di industri sawit secara dialogis dan berkeadilan.

“Kami percaya, keberlanjutan hanya bisa tercapai lewat dialog. Karena itu, GAPKI ingin mendorong agar model JAGA SAWITAN bisa diadaptasi di Kapuas Hulu dengan melibatkan pemerintah daerah, petani, dan NGO lingkungan,” jelasnya.

Dari gagasan itu, muncul rencana pembentukan ISAKU (Inisiatif Sawit Berkelanjutan Kapuas Hulu), sebagai wadah lokal yang mengintegrasikan seluruh pihak dalam memajukan sawit secara berkelanjutan. Menariknya, dalam pelafalan lokal Dayak maupun Indonesia, ISAKU terdengar seperti “desaku” simbol bahwa gerakan ini lahir dari desa untuk desa.

Sumarjono menegaskan bahwa pendekatan seperti ISAKU sejalan dengan visi pemerintah pusat. “Inisiatif seperti ISAKU ini sejalan dengan agenda Asta Cita Prabowo–Gibran, yang menempatkan desa dan kemandirian ekonomi rakyat sebagai fondasi utama pembangunan nasional,” ujarnya.

Ia menutup dengan optimisme bahwa kolaborasi JAGA SAWITAN dan ISAKU akan menjadi energi besar untuk mewujudkan sawit yang berkelanjutan dan menyejahterakan.

“Kapuas Hulu adalah The Heart of Borneo, tapi juga bisa menjadi jantung sawit berkelanjutan Indonesia. Melalui kolaborasi, kita bisa menjaga alam sekaligus menyejahterakan manusia,” pungkas Sumarjono Saragih.