25 Juli 2026
Share:

Jakarta, bisnissawit.com – Indonesia masih mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun, di balik capaian tersebut, produktivitas industri sawit nasional dinilai belum berkembang secara optimal. Produksi crude palm oil (CPO) dalam beberapa tahun terakhir cenderung berfluktuasi, yakni sebesar 51,3 juta ton pada 2021, 51,248 juta ton pada 2022, 54,844 juta ton pada 2023, 52,553 juta ton pada 2024, dan 56,333 juta ton pada 2025. Sementara hingga April 2026, produksi telah mencapai 20,461 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah utama bagi industri sawit nasional.

Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI sekaligus Director of Sustainability, Research and Development PT Prime Agri Resources Tbk, Dwi Asmono, menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar industri sawit Indonesia adalah belum optimalnya dukungan riset dibandingkan komoditas minyak nabati pesaing. Hal tersebut disampaikannya dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh BPDP.

Menurut Dwi, komoditas seperti rapeseed, bunga matahari, dan kedelai memperoleh dukungan riset publik dalam skala yang sangat besar melalui pendanaan multiyears di kawasan Eropa. Pada periode 2021–2027, alokasi dana riset mencapai €93,5 miliar dan meningkat menjadi €175 miliar untuk periode 2028–2034. Sebaliknya, riset sawit yang dijalankan melalui lima konsorsium GAPKI masih didukung anggaran dalam skala puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

Ia menilai kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan riset di sektor hulu sawit perlu dipercepat agar mampu meningkatkan daya saing industri nasional di tingkat global.

Di sisi lain, produktivitas kebun sawit Indonesia masih jauh dari potensi maksimalnya. Saat ini, produktivitas perkebunan perusahaan baru mencapai sekitar 62 persen dari potensi yang dimiliki, sedangkan produktivitas kebun rakyat berada pada kisaran 53 persen.

Baca Juga:  Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 3–9 Juni 2026 Turun Rp100,02 per Kg

Untuk mempersempit kesenjangan produktivitas tersebut, GAPKI membentuk lima konsorsium penelitian yang berfokus pada aspek-aspek strategis, yakni sumber daya genetik (SDG), serangga penyerbuk, pupuk hayati, pengendalian Ganoderma, serta mekanisasi, digitalisasi, dan otomatisasi (MDO). Melalui berbagai riset tersebut, GAPKI menargetkan peningkatan produktivitas, efisiensi penggunaan input produksi, sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan industri sawit.

Sejumlah hasil nyata telah mulai diperoleh, antara lain pelepasan serangga penyerbuk asal Tanzania, distribusi 21.281 benih sumber daya genetik Tanzania kepada 14 perusahaan, serta terbentuknya kemitraan riset mekanisasi dan digitalisasi bersama Badan Kejuruan Teknik Pertanian Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Pada aspek sumber daya genetik, konsorsium dibentuk untuk memperluas plasma nutfah kelapa sawit melalui pengayaan material genetik lintas benua. Saat ini Indonesia baru memiliki koleksi plasma nutfah dari empat negara asal, sedangkan Malaysia telah mengoleksi dari 18 negara. Setelah berhasil mendatangkan material genetik dari Tanzania, proses pengayaan kini berlanjut dengan pengembangan sumber daya genetik dari Zambia.

Sementara itu, riset serangga penyerbuk diarahkan untuk memperluas keragaman genetik setelah lebih dari empat dekade. Beberapa spesies baru seperti Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus hasil reintroduksi, serta Elaeidobius plagiatus diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penyerbukan dan berpotensi menaikkan produksi sebesar 10–15 persen.

Di bidang nutrisi tanaman, konsorsium pupuk hayati mengembangkan teknologi mikroba yang ditargetkan mampu menggantikan penggunaan pupuk NPK hingga 40–60 persen. Teknologi tersebut tengah diuji pada fase pembibitan maupun tanaman menghasilkan di sejumlah perusahaan anggota GAPKI di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, sekaligus menjawab persoalan defisiensi kalium yang masih banyak ditemukan pada perkebunan rakyat.

Adapun konsorsium Ganoderma mengembangkan pendekatan terpadu untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot/BSR) yang telah menyerang perkebunan di 12 provinsi dan menyebabkan kehilangan produksi hingga 50–80 persen. Pendekatan tersebut mencakup pengembangan benih tahan penyakit, identifikasi marka genetik, pembangunan basis data nasional penyebaran Ganoderma melalui Gano-Base atau Si-Gano, hingga pemanfaatan mikroba endofit sebagai agen pengendali hayati.

Baca Juga:  ISGANO 2025, Simposium Internasional Tentang Ganoderma di Kebun Sawit

Di sisi mekanisasi dan digitalisasi, GAPKI juga mengembangkan berbagai inovasi untuk mewujudkan perkebunan sawit yang lebih cerdas, efisien, dan presisi. Langkah ini menjadi penting mengingat Indonesia masih mengimpor alat mekanisasi perkebunan dalam jumlah besar, yang sebagian besar belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi agroekologi perkebunan sawit di Indonesia. Beberapa teknologi yang tengah dikembangkan antara lain autonomous fertilizer spreader, kendaraan angkut listrik tanpa awak, sistem prakiraan iklim ClimateSmart-OP, alat pembuat lubang tanam presisi, sistem keamanan perkebunan berbasis digital, hingga sistem pendukung keputusan untuk pengelolaan muka air dan emisi metana.

Berdasarkan estimasi GAPKI, berbagai program riset tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi industri sawit nasional. Pengayaan sumber daya genetik diperkirakan mampu meningkatkan produktivitas nasional dari empat ton menjadi lima ton CPO per hektare sehingga berpotensi menambah devisa negara hingga USD15,4 miliar per tahun. Peningkatan efektivitas serangga penyerbuk diproyeksikan mampu menaikkan fruit set dari 65 persen menjadi 85 persen serta meningkatkan rendemen CPO sebesar 2–3 persen dengan tambahan devisa sekitar USD4,9 miliar per tahun. Sementara pengendalian Ganoderma diperkirakan dapat menekan kehilangan produksi sekitar 10 persen yang setara dengan potensi tambahan devisa mencapai USD6 miliar setiap tahun.