Bisnissawit.com – Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta meningkatnya kebutuhan minyak goreng menjelang Ramadan 2026 menjadi faktor utama yang mendorong penguatan saham sejumlah perusahaan sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI). Momentum ini dimanfaatkan investor untuk masuk ke sektor perkebunan yang dinilai memiliki prospek cerah dalam jangka pendek.
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) mencatatkan lonjakan tertinggi dengan kenaikan 20,81 persen ke posisi Rp1.045 per saham. Saham PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 10,61 persen ke level Rp146 per saham.
Perusahaan sawit besar lainnya turut menunjukkan performa positif. Saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) naik 1,00 persen menjadi Rp7.600 per saham. Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) masing-masing menguat 2,08 persen dan 0,36 persen.
Kenaikan juga terjadi pada saham milik Grup Salim, yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) yang naik 2,63 persen ke Rp585, serta PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) yang meningkat 2,58 persen menjadi Rp1.195 per saham. Saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) juga ikut menguat 5,14 persen ke Rp2.660 per saham.
Selain itu, saham PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) naik 1,00 persen menjadi Rp1.010, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) menguat 0,91 persen ke Rp5.550, dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) melonjak 9,70 persen ke Rp362 per saham.
Meski mayoritas saham sawit menguat, beberapa emiten justru mengalami koreksi. Saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) turun 3,24 persen ke Rp1.645, PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) melemah 9,24 persen ke Rp7.125, PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) turun 1,08 persen menjadi Rp11.425, serta PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) turun tipis 0,58 persen ke Rp1.720 per saham.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan mencatat harga referensi CPO mengalami kenaikan menjelang Ramadan. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa peningkatan harga dipicu oleh naiknya permintaan yang tidak diimbangi peningkatan produksi.
“Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya permintaan sebagai antisipasi Hari Raya Imlek dan Ramadan, yang tidak diiringi dengan peningkatan suplai akibat penurunan produksi,” kata Tommy dalam keterangan resminya.
Harga referensi CPO untuk periode 1–28 Februari 2026 tercatat sebesar US$918,47 per metrik ton, naik US$2,84 dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi ini memperkuat optimisme pasar terhadap sektor sawit, terutama karena Ramadan identik dengan meningkatnya konsumsi minyak goreng. Kombinasi kenaikan harga CPO dan permintaan domestik yang tinggi menjadi pendorong utama penguatan saham emiten sawit dalam beberapa waktu terakhir.
Sumber: Kalteng Daily