11 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia kembali mengalami penguatan pada perdagangan Senin setelah sebelumnya melemah selama tiga sesi berturut-turut. Kenaikan harga tersebut didorong menguatnya harga minyak kedelai (soyoil) dan minyak mentah global yang menopang sentimen pasar minyak nabati dunia.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 46 ringgit atau sekitar 1,02% menjadi 4.551 ringgit per metrik ton pada perdagangan siang hari.

Trader perusahaan perdagangan Iceberg X Sdn Bhd di Kuala Lumpur, David Ng, mengatakan penguatan harga sawit terjadi seiring kenaikan harga minyak kedelai dan minyak mentah selama sesi perdagangan Asia.

“Kami melihat harga mendapat dukungan di atas 4.500 ringgit, dengan resistance di level 4.680 ringgit,” ujar David Ng.

Pergerakan harga minyak sawit memang kerap mengikuti tren minyak nabati lain karena saling bersaing dalam pasar global vegetable oil. Pada perdagangan yang sama, kontrak soyoil paling aktif di Bursa Dalian naik 0,46%, sementara kontrak minyak sawit di bursa tersebut menguat tipis 0,08%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melonjak sekitar 0,97%.

Selain faktor minyak nabati, kenaikan harga minyak mentah dunia juga ikut mendukung penguatan harga CPO, terutama karena meningkatnya prospek permintaan biodiesel berbahan baku sawit.

Sentimen pasar minyak mentah memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat sebagai “tidak dapat diterima”. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, khususnya terkait kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.

Dari sisi fundamental pasar, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan stok minyak sawit Malaysia sepanjang April meningkat 1,71% dibanding bulan sebelumnya menjadi 2,31 juta metrik ton.

Baca Juga:  HR CPO Desember Turun, Pemerintah Tetapkan BK USD 74/MT dan PE 10%

Produksi sawit Malaysia juga melonjak cukup signifikan sebesar 18,37%, sementara ekspor tercatat turun 14,34% dibanding periode sebelumnya.

Di sisi lain, surveyor kargo Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Mei naik sekitar 8,5% dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, AmSpec Agri Malaysia dijadwalkan merilis estimasi ekspor terbaru pada hari yang sama.

Nilai tukar ringgit Malaysia juga tercatat melemah sekitar 0,2% terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang tersebut membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing sehingga dapat membantu meningkatkan daya saing ekspor.

Meski demikian, analis teknikal Reuters, Wang Tao, mengingatkan bahwa harga CPO masih berpotensi mengalami tekanan jika level support tertentu berhasil ditembus pasar.

Menurut Wang Tao, minyak sawit berpotensi turun menuju kisaran 4.410–4.452 ringgit per metrik ton apabila harga menembus level support di 4.482 ringgit dan tekanan jual terus berlanjut.

Sumber: Indopremier.com