21 April 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia kembali mencatat penguatan pada perdagangan Senin, didorong kenaikan harga minyak mentah dunia serta perbaikan harga minyak nabati pesaing di pasar global.

Kontrak CPO untuk pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 34 ringgit atau 0,76 persen menjadi 4.484 ringgit per metrik ton pada perdagangan tengah hari. Penguatan ini terjadi setelah harga minyak mentah melonjak dan pasar minyak nabati di Dalian maupun Chicago berbalik menguat.

Analis StoneX yang berbasis di Singapura, Kang Wei Cheang, mengatakan kenaikan harga CPO dipicu oleh penguatan minyak mentah akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

CPO berjangka diperdagangkan sedikit lebih tinggi, didukung harga minyak mentah yang lebih kuat, karena ketegangan yang meningkat di Timur Tengah kembali mengurangi aktivitas pengiriman di Teluk, membantu harga memulihkan sebagian kerugian tajam Jumat lalu,” ujar Kang Wei Cheang.

Ia menambahkan, pasar Dalian yang kembali pulih setelah penurunan pada akhir pekan lalu turut menopang sentimen positif di pasar sawit.

“Kompleks minyak kedelai Chicago menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan soyoil rebound akibat penyebaran harga antara minyak dan bungkil serta harga minyak mentah yang lebih tinggi,” katanya.

Harga minyak mentah dunia sendiri melonjak lebih dari 5 persen setelah muncul kekhawatiran bahwa potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dapat gagal menyusul penyitaan kapal kargo Iran oleh AS. Selain itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga masih terganggu.

Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Di pasar Dalian, kontrak minyak sawit naik 0,34 persen dan kontrak soyoil menguat 0,06 persen. Sementara itu, harga soyoil di Chicago Board of Trade meningkat 0,81 persen.

Baca Juga:  Mutiara Panjaitan Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum dengan Gagasan Pembentukan Badan Otoritas Sawit Indonesia

Pergerakan harga sawit biasanya mengikuti tren minyak nabati lain karena saling bersaing di pasar global. Pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia sebesar 0,08 persen terhadap dolar AS juga membuat harga sawit lebih menarik bagi pembeli luar negeri.

Sementara itu, Malaysian Palm Oil Board memperkirakan konsumsi biodiesel berbasis sawit di Malaysia akan bertambah lebih dari 300 ribu metrik ton per tahun. Peningkatan ini sejalan dengan upaya Malaysia mengikuti langkah Indonesia dalam menaikkan mandat pencampuran biodiesel guna menekan impor energi.

Dari sisi teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga sawit berpeluang menguji level support di 4.440 ringgit per metrik ton. Apabila level tersebut ditembus, harga berpotensi turun ke kisaran 4.349 hingga 4.408 ringgit per metrik ton.