9 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3), mengikuti reli harga minyak mentah global. Kenaikan ini bahkan tercatat sebagai lonjakan terbesar dalam tiga tahun terakhir, didorong ekspektasi meningkatnya permintaan bahan baku biodiesel.

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Mei naik signifikan. Harga sempat melonjak hingga 4.803 ringgit per ton metrik, yang menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Pada jeda perdagangan tengah hari, kontrak tersebut tercatat naik 296 ringgit atau sekitar 6,78% menjadi 4.663 ringgit (setara USD1.175,74) per ton. Laporan ini dikutip dari Reuters di Jakarta, Senin (9/3).

Kepala Riset Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, menyebut lonjakan ini terjadi karena penguatan harga energi dan minyak nabati global.

“Kontrak Mei melonjak hingga batas maksimal hari ini setelah reli harga energi dan minyak nabati pesaing yang luar biasa,” ujar Bagani.

Reli tersebut tidak lepas dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang melonjak lebih dari 25% pada hari yang sama. Harga bahkan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Kenaikan harga energi ini dipicu oleh langkah sejumlah produsen besar yang memangkas pasokan, ditambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pengiriman akibat meluasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Lonjakan harga minyak mentah membuat minyak sawit semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi ini mendorong minat pasar terhadap CPO.

Penguatan juga terjadi pada minyak nabati lainnya. Di China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melonjak 5,83%, sedangkan kontrak minyak sawitnya naik sekitar 7%. Sementara di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga menguat 4,54%.

Baca Juga:  Seminar Planter Sawit: Bincang-Bincang Sawit, Solusi untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit

Pergerakan harga minyak sawit memang cenderung mengikuti tren minyak nabati lain karena semuanya bersaing di pasar global untuk memperebutkan pangsa pasar vegetable oil.

Faktor lain yang ikut mendukung kenaikan harga adalah pelemahan mata uang ringgit Malaysia. Nilai ringgit tercatat turun sekitar 0,61% terhadap dolar AS, sehingga membuat harga sawit menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memproyeksikan harga CPO masih berpotensi melanjutkan kenaikan dalam waktu dekat.

“Harga minyak sawit kemungkinan akan menembus level resistance 4.444 ringgit per ton dan bergerak menuju kisaran 4.517 hingga 4.615 ringgit,” kata Wang Tao.

Sumber: Reuters