10 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia melemah pada perdagangan Selasa (10/3), seiring penurunan harga minyak nabati pesaing serta koreksi di pasar minyak mentah global. Tekanan ini membuat harga kontrak sawit kembali turun lebih dari dua persen pada sesi perdagangan hari itu.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun 106 ringgit atau sekitar 2,32 persen menjadi 4.461 ringgit per ton metrik pada jeda tengah hari. Sebelumnya, harga bahkan sempat menyentuh level 4.370 ringgit di awal sesi perdagangan.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan pergerakan harga komoditas tersebut masih sangat dipengaruhi dinamika pasar global. “Pergerakan kontrak berjangka ini mengikuti tren minyak sawit di Dalian, minyak kedelai di Chicago, serta harga minyak mentah, sambil menunggu rilis data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB),” ujarnya.

Data MPOB yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan stok minyak sawit Malaysia turun 3,9 persen pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi sekitar 2,70 juta ton metrik atau level terendah dalam empat bulan terakhir. Di sisi lain, produksi CPO merosot tajam 18,6 persen dari Januari menjadi 1,28 juta ton, sementara ekspor juga anjlok 22,5 persen menjadi 1,13 juta ton.

Di pasar komoditas global, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian melemah sekitar 2,5 persen dan kontrak minyak sawitnya turun 1,44 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade terkoreksi sekitar 0,5 persen. Harga sawit memang kerap bergerak searah dengan minyak nabati lain karena bersaing dalam pasar minyak nabati dunia.

Tekanan tambahan datang dari melemahnya harga minyak mentah dunia setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Penurunan ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memprediksi konflik di Timur Tengah dapat segera mereda, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global ikut berkurang.

Baca Juga:  Pemprov Kalsel Gencarkan Tumpang Sari Padi Gogo di Lahan Sawit

Koreksi harga minyak mentah tersebut membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel. Meski demikian, Indonesia masih mempertimbangkan untuk kembali meluncurkan program biodiesel berbasis sawit dengan campuran B50 pada pertengahan tahun ini, terutama seiring kenaikan harga energi global.

Sementara itu, analis teknikal Reuters, Wang Tao, menilai pergerakan harga sawit masih berpotensi berada dalam rentang 4.513 hingga 4.546 ringgit per ton metrik setelah berhasil bertahan di level support sekitar 4.369 ringgit.

Sumber: Indopremier.com