Bisnissawit.com — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali tertekan pada perdagangan terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh pergerakan harga minyak nabati global serta penguatan nilai tukar ringgit Malaysia yang ikut membebani pasar.
Pada Senin (15/12/2025), kontrak CPO pengiriman Februari 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup di level MYR 4.006 per ton. Angka tersebut turun sekitar 0,3% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu dan menjadi posisi terendah sejak 25 November 2025, atau dalam kurun sekitar tiga minggu terakhir.
Penurunan CPO tak lepas dari koreksi harga minyak nabati lain. Pada hari yang sama, harga minyak kedelai di Bursa Dalian, China, terkoreksi 0,96%. Ketika minyak kedelai lebih murah, daya tarik CPO sebagai alternatif ikut berkurang karena keduanya saling bersaing dan dapat saling menggantikan di pasar global minyak nabati.
Selain itu, faktor nilai tukar juga memberi tekanan tambahan. Ringgit Malaysia menguat 0,07% terhadap dolar AS, yang membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Mengingat CPO diperdagangkan dalam denominasi ringgit, apresiasi mata uang ini cenderung menekan minat investor global.
Dari sisi fundamental, pasar juga dibayangi oleh ekspektasi penurunan permintaan. Amspec Agri memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Desember anjlok 16,4% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Sementara itu, Intertek Testing Services memproyeksikan penurunan ekspor sebesar 15,9%.
Tinjauan Teknikal
Lalu bagaimana prospek pergerakan harga CPO pada Selasa (16/12/2025)?
Secara teknikal pada time frame harian, CPO masih berada di area bearish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 39, di bawah ambang 50 yang menandakan tekanan jual masih dominan.
Sementara itu, Stochastic RSI tercatat di 51, berada di zona beli (long) namun dengan kekuatan yang masih terbatas.
Untuk perdagangan hari ini, CPO masih memiliki peluang melakukan rebound terbatas. Perhatian pasar tertuju pada pivot point di MYR 4.083 per ton. Jika mampu bertahan dan menguat, harga berpotensi menguji resisten MYR 4.105 per ton (Moving Average/MA-10), lalu MYR 4.112 per ton (MA-20). Target kenaikan paling optimistis berada di kisaran MYR 4.179 per ton.
Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat, harga CPO berpotensi turun menguji support MYR 3.966 per ton. Apabila level ini ditembus, penurunan bisa berlanjut hingga MYR 3.956 per ton sebagai area support terjauh.
Sumber: Bloomberg Technoz