Bisnissawit.com – Harga kontrak minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) bergerak menguat tipis pada perdagangan Rabu (17/12/2025). Kenaikan harga minyak mentah global menjadi faktor penopang, meski sentimen pasar masih terbebani oleh kinerja ekspor yang melemah serta stok domestik yang relatif tinggi.
Mengacu pada data penutupan BMD, kontrak CPO Januari 2026 naik 4 ringgit menjadi 3.951 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2026 menguat 6 ringgit ke level 3.964 ringgit per ton. Selanjutnya, kontrak Maret 2026 naik 4 ringgit menjadi 3.966 ringgit per ton, sementara kontrak April 2026 tercatat stabil di 3.970 ringgit per ton.
Untuk kontrak Mei 2026, harga juga tidak berubah di posisi 3.971 ringgit per ton. Hal serupa terjadi pada kontrak Juni 2026 yang bertahan di level 3.963 ringgit per ton. Trader Iceberg X Sdn Bhd di Kuala Lumpur, David Ng, menilai pasar masih dibayangi kekhawatiran ekspor yang lesu dan tingginya persediaan dalam negeri. Namun, penguatan harga minyak kedelai di Chicago serta minyak mentah dunia berhasil menopang pergerakan harga sawit.
Secara global, harga sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaingnya. Di Dalian, harga minyak kedelai turun 0,89% dan CPO melemah 1%, sementara di Chicago Board of Trade harga minyak kedelai terkoreksi 0,17%. Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak lebih dari 1% setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pemblokiran total kapal tanker minyak yang terkena sanksi keluar-masuk Venezuela.
Kondisi geopolitik ini meningkatkan daya tarik biodiesel berbasis sawit. Pelemahan nilai tukar ringgit 0,07% terhadap dolar AS juga membuat harga sawit lebih kompetitif bagi pembeli asing. Selain itu, EPA AS diperkirakan akan memfinalisasi mandat pencampuran biofuel 2026–2027 pada kuartal pertama tahun depan. Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa musim 2025/26 turun 13% menjadi 5,65 juta ton hingga 14 Desember, sementara impor minyak sawit juga turun 12% menjadi 1,35 juta ton.
Sumber: investor.id