Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali menunjukkan tren positif di pertengahan Agustus 2025. Lonjakan harga yang signifikan membuat para pelaku usaha hingga bos-bos sawit kian optimistis menghadapi sisa tahun ini.
Berdasarkan data Refinitiv yang dilansir dari CNBC Indonesia, Senin (18/8/25) harga CPO pada perdagangan Jumat (15/8/2025) lalu ditutup di level MYR 4.472 per ton, naik 1,57% dibanding hari sebelumnya. Secara mingguan, harga CPO tercatat melesat 5,1% point-to-point, sekaligus menorehkan rekor tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Peningkatan harga ini sejalan dengan melonjaknya ekspor sawit dari Malaysia pada periode 1–15 Agustus. Menurut AmSpec Agri Malaysia, ekspor naik 21,3%, sementara data Intertek Testing Services mencatat kenaikan sebesar 16,5%. Lonjakan permintaan global menjadi penopang utama kenaikan harga.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekspor CPO dan produk turunannya pada semester I 2025 tumbuh 24,81% year-on-year (yoy), dengan nilai mencapai US$ 11,43 miliar dan volume 11 juta ton. Kenaikan ini turut dipicu oleh kesepakatan tarif nol untuk ekspor CPO ke Uni Eropa melalui implementasi CEPA, yang memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk sawit nasional.
Kondisi ini membuat para pengusaha sawit sumringah. Kenaikan harga dipandang sebagai momentum pemulihan setelah pasar sempat tertekan akibat ketidakpastian global.
Meski begitu, dinamika harga minyak nabati lain tetap menjadi faktor penting. Minyak kedelai di Dalian turun tipis 0,19%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian naik 0,11%. Di Chicago Board of Trade (CBOT), minyak kedelai justru menguat 0,33%. Pergerakan ini menunjukkan persaingan ketat antar minyak nabati dalam merebut pangsa pasar global.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya menertibkan praktik ilegal di sektor perkebunan. Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan Sidang Tahunan MPR (15/8/2025) menyampaikan bahwa terdapat 3,7 juta hektare perkebunan sawit yang beroperasi melanggar hukum. Pemerintah berkomitmen melakukan langkah tegas agar tata kelola sawit lebih berkelanjutan.
Sementara di India, impor minyak sawit sempat tertahan pada Juli akibat pembatalan kontrak. Namun, impor minyak kedelai justru melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun, didorong harga yang lebih kompetitif serta keterlambatan pengiriman bulan sebelumnya.
Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia akhir pekan lalu juga memengaruhi sentimen pasar. Para trader masih menunggu hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang diharapkan bisa membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap Moskow. Kondisi ini membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Meski begitu, prospek jangka menengah tetap cerah. Negara produsen utama, Indonesia dan Malaysia, terus mendorong implementasi kebijakan mandatori biodiesel. Indonesia bahkan menargetkan penerapan B50 pada 2026, yang diharapkan dapat memperkuat permintaan domestik sekaligus menjaga stabilitas pasar di tengah ketatnya pasokan global.
Dengan tren positif ini, para bos sawit tampaknya bisa bernapas lega. Agustus menjadi bulan penuh harapan, di mana harga yang naik dan pasar ekspor yang bergairah memberi angin segar bagi industri sawit nasional maupun regional. (*)