26 Januari 2026
Share:

Bisnissawit.com — Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sempat melemah pada perdagangan menjelang akhir pekan lalu. Meski begitu, jika dihitung secara mingguan, pergerakannya masih mencatat kenaikan.

Pada Jumat (23/1/2026), kontrak CPO pengiriman April di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup di level MYR 4.174 per ton. Angka ini turun 0,57% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi setelah CPO menguat selama tiga sesi berturut-turut, dengan total kenaikan 3,12% dalam tiga hari itu. Alhasil, walaupun terkoreksi di akhir pekan, secara keseluruhan harga CPO tetap naik 2,53% sepanjang minggu lalu (point-to-point).

Sementara itu, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menilai harga CPO masih berpotensi bertahan kuat setidaknya hingga bulan depan. Untuk Februari, MPOB memproyeksikan harga berada dalam rentang MYR 4.000–4.300 per ton.

Stabilnya harga di level tinggi disebut dipengaruhi oleh produksi yang menurun secara musiman di awal tahun. Di sisi lain, permintaan justru diperkirakan meningkat karena momentum Ramadan dan Tahun Baru Imlek.

Harapan peningkatan permintaan ini juga terlihat dari proyeksi ekspor produk minyak sawit Malaysia yang diperkirakan naik sekitar 8,64% hingga 11,4% pada periode 1–20 Januari, dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.

Lalu, bagaimana arah harga CPO untuk minggu ini?

Dari sudut pandang teknikal pada time frame mingguan, posisi CPO masih cenderung netral. Hal ini terlihat dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di angka 50.

Namun, indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh level 79. Ini menunjukkan sinyal beli yang cukup kuat dan bahkan mulai mendekati area jenuh beli (overbought).

Di sisi lain, Average True Range (ATR) 14 hari tercatat di angka 131, yang mengindikasikan volatilitas harga CPO berpotensi tinggi dalam pekan ini.

Baca Juga:  Ahli Ekonomi Universitas Sumatera Utara Cemas Kondisi Harga CPO Kian Melemah

Untuk pergerakan minggu ini, harga CPO diperkirakan punya peluang melemah. Area support terdekat berada di MYR 4.073 per ton yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika level ini ditembus, support selanjutnya mengarah ke MA-10 di MYR 4.062 per ton.

Pasar juga perlu mewaspadai pivot point di MYR 4.045 per ton. Jika tekanan jual semakin kuat dari area tersebut, harga berpotensi turun lebih dalam hingga menuju support terjauh di MYR 3.891 per ton.

Sebaliknya, bila CPO masih mampu melanjutkan kenaikan, maka level MYR 4.227 per ton akan menjadi resisten terdekat. Sementara target kenaikan paling optimistis berada di sekitar MYR 4.240 per ton.

Sumber: Bloomberg Technoz