5 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga kontrak berjangka Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir empat pekan. Tekanan datang dari aksi ambil untung (profit taking) serta pelemahan harga minyak nabati di pasar global.

Berdasarkan data penutupan BMD, kontrak CPO pengiriman Maret 2026 turun 9 ringgit Malaysia menjadi 4.071 ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak April 2026 juga melemah 9 ringgit Malaysia ke level 4.155 ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka Mei 2026 turut terkoreksi 7 ringgit Malaysia menjadi 4.179 ringgit Malaysia per ton. Selanjutnya, kontrak Juni 2026 turun 5 ringgit Malaysia menjadi 4.189 ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak Juli 2026, harga terkoreksi 4 ringgit Malaysia menjadi 4.188 ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak Agustus 2026 juga turun 4 ringgit Malaysia menjadi 4.180 ringgit Malaysia per ton.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan pergerakan CPO mengikuti dinamika harga minyak nabati lain di pasar global. Ia menyebut, “Kontrak CPO cenderung bergerak di kisaran 4.150 hingga 4.300 ringgit Malaysia per ton seiring aksi profit taking setelah reli harga yang terjadi sebelumnya.”

Di pasar China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik 0,26%. Namun kontrak minyak sawitnya justru turun tipis 0,04% setelah sebelumnya sempat melemah hingga 0,49%. Sementara di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai menguat 0,11% setelah sebelumnya sempat terkoreksi 0,51%.

Sebagai komoditas yang bersaing di pasar minyak nabati dunia, pergerakan harga sawit kerap mengikuti tren minyak nabati lain seperti kedelai maupun bunga matahari.

Di sisi fundamental, survei Reuters memperkirakan stok minyak sawit Malaysia pada Februari kembali turun untuk bulan kedua berturut-turut dan diprediksi menyentuh level terendah dalam empat bulan. Penurunan ini dipengaruhi oleh produksi musiman yang lebih rendah dibanding perlambatan ekspor.

Baca Juga:  Saham LSIP Grup Salim Berpotensi Menguat Seiring Kenaikan Harga CPO

Sementara itu, impor minyak sawit India pada Februari meningkat 10,1% dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan. Kenaikan tersebut dipicu oleh semakin lebarnya diskon harga minyak sawit dibanding minyak nabati lain, sehingga mendorong kilang di negara tersebut meningkatkan pembelian serta mengurangi impor minyak bunga matahari.

Di pasar energi, harga minyak mentah dunia tercatat naik sekitar 1% pada Rabu. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di kawasan Timur Tengah. Namun penguatan harga minyak mulai terbatas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka kemungkinan Angkatan Laut AS mengawal kapal yang melintas di Selat Hormuz guna menjaga kelancaran distribusi energi global.

Kenaikan harga minyak mentah biasanya meningkatkan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi menguji level support di 4.121 ringgit per ton. Jika level tersebut ditembus, harga diperkirakan dapat turun lebih lanjut menuju kisaran 4.078 hingga 4.098 ringgit per ton.

Sumber: Investor.id