19 Desember 2025
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali melemah pada perdagangan Jumat (19/12/2025), turun lebih dari 1 persen dan sekaligus memutus tren penguatan dua hari sebelumnya. Pelemahan ini dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia serta penurunan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago yang menekan sentimen pasar.

Pada penutupan perdagangan, harga CPO tercatat turun 1,86 persen ke level 3.905 ringgit Malaysia per ton. Posisi ini menjadi yang terendah sejak Juni 2025. Dalam kurun empat pekan terakhir, harga minyak sawit telah terkoreksi sekitar 5 persen, sementara secara tahunan dalam 12 bulan terakhir tercatat melemah hingga 11 persen.

Penurunan harga tersebut juga menempatkan CPO di jalur pelemahan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut, dengan akumulasi penurunan sekitar 2 persen sejauh ini. Tekanan pasar semakin terasa di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek permintaan ekspor global.

Seorang pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, menyebutkan bahwa tekanan utama terhadap harga CPO berasal dari melemahnya harga minyak nabati pesaing. Kontrak palm olein di bursa Dalian masih bergerak di zona merah setelah penurunan pada sesi sebelumnya. Selain itu, penguatan ringgit yang bertahan di kisaran 4,08 turut membuat pembeli cenderung menahan transaksi.

Dari sisi ekspor, survei kargo yang dikutip Trading Economics memperkirakan pengapalan minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Desember turun sekitar 15,9 hingga 16,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Data resmi juga menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada November turun 9,3 persen secara tahunan, berbalik arah dari lonjakan 24 persen yang terjadi pada Oktober.

Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah Malaysia menurunkan harga referensi CPO untuk Januari 2026 sekaligus memangkas bea ekspor menjadi 9,5 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu menopang kinerja ekspor dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga:  Ekspor Produk Sawit Tumbuh Pesat, Pemerintah Percepat Hilirisasi

Di sisi lain, tekanan harga sedikit tertahan oleh meningkatnya permintaan dari India. Laporan industri menunjukkan impor minyak sawit India sebagai pembeli terbesar dunia naik sekitar 5 persen pada November dibandingkan Oktober, didorong oleh harga yang dinilai lebih kompetitif.

Sementara itu di Indonesia, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat stok minyak sawit pada akhir Oktober turun 10 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 2,33 juta ton, meskipun produksi mengalami peningkatan.

Adapun dari Eropa, negara-negara Uni Eropa telah menyepakati penundaan penerapan undang-undang anti-deforestasi selama satu tahun. Penundaan ini dilakukan menyusul keberatan dari pelaku industri serta kekhawatiran bahwa sistem digital untuk penegakan aturan tersebut belum sepenuhnya siap.

Sumber: IDX Channel