Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali berada di bawah tekanan setelah melemah di akhir pekan lalu. Sepanjang sepekan perdagangan, performa komoditas andalan ini juga tercatat kurang bergairah.
Mengutip laporan Bloomberg Technoz, pada perdagangan Jumat (2/1/2026), kontrak CPO pengiriman Maret di Bursa Malaysia ditutup di level MYR 3.990 per ton. Harga tersebut turun 1,5% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi posisi terendah sejak 22 Desember 2025, atau hampir dua pekan terakhir.
Secara akumulatif, sepanjang pekan lalu harga CPO mengalami koreksi sebesar 2,42% secara point-to-point. Tekanan utama datang dari kekhawatiran melemahnya permintaan global, khususnya dari sisi ekspor.
Beberapa perusahaan kargo memperkirakan volume ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Desember 2025 menyusut sekitar 5,2–5,8% dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi pergerakan harga.
“Ekspor CPO Malaysia pada Desember kemungkinan turun sekitar 5%. Angka ini cukup di luar ekspektasi pasar, mengingat kinerja November yang sebenarnya sudah tergolong rendah,” ujar Anilkumar Bagani, Head of Commodity Research Sunvin Group, dikutip dari Bloomberg News.
Masih Bearish, Tapi Ada Peluang Rebound
Dari sisi teknikal dengan kerangka waktu mingguan (weekly time frame), harga CPO masih bergerak di area bearish. Hal ini tercermin dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 41. Posisi RSI di bawah angka 50 umumnya menandakan tekanan jual masih dominan.
Sementara itu, Stochastic RSI 14 hari tercatat di level 24, menunjukkan area jual (short) yang kuat dan mendekati kondisi jenuh jual (oversold). Di sisi lain, indikator Average True Range (ATR) 14 hari berada di angka 129, yang mengindikasikan potensi volatilitas harga masih cukup tinggi dalam waktu dekat.
Untuk perdagangan pekan ini, peluang kenaikan jangka pendek masih terbuka. Level resisten terdekat berada di MYR 4.031 per ton, yang merupakan area Moving Average (MA) 5 hari. Jika level ini berhasil ditembus, target selanjutnya berada di MA-10 pada MYR 4.078 per ton. Sementara target resisten paling optimistis berada di kisaran MYR 4.251 per ton.
Namun, jika tekanan berlanjut dan harga kembali melemah, CPO berpotensi menguji area support di MYR 3.956–3.948 per ton. Apabila level ini jebol, risiko penurunan lanjutan bisa membawa harga ke rentang MYR 3.927–3.911 per ton.
Sumber: Bloomberg Technoz