6 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) mengalami kenaikan pada perdagangan terbaru. Lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan komoditas ini.

Pada perdagangan Kamis (5/3/2026), harga CPO kontrak pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup di level MYR 4.205 per ton. Angka tersebut naik 0,62% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak 5 Februari 2026 atau sekitar satu bulan terakhir.

Kenaikan ini dipicu dinamika di pasar energi global. Menurut Anilkumar Bagani, Head of Commodity Research di Sunvin Group, harga CPO mendapat dorongan karena saat ini relatif lebih murah dibandingkan minyak mentah yang sedang melonjak akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pada saat yang sama, harga minyak mentah jenis Brent juga mengalami lonjakan tajam. Komoditas energi tersebut ditutup di level US$85,41 per barel, naik 4,93% dalam sehari dan menjadi harga tertinggi sejak 1 Juli 2024 atau sekitar satu setengah tahun terakhir.

Dalam kurun waktu sepekan, harga minyak bahkan tercatat melonjak hampir 20% secara point-to-point. Kenaikan signifikan ini memicu spekulasi bahwa dunia akan semakin melirik bahan bakar nabati sebagai alternatif energi. CPO sendiri merupakan salah satu bahan utama dalam produksi bahan bakar berbasis nabati.

Secara teknikal, pergerakan harga CPO dalam kerangka waktu harian masih berada di area bullish. Hal ini terlihat dari indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang berada di level 62, menunjukkan tren penguatan masih berlangsung.

Namun, indikator Stochastic RSI sudah berada di angka 99, jauh di atas ambang 80 yang menandakan kondisi overbought atau jenuh beli. Kondisi ini membuka kemungkinan adanya koreksi harga dalam jangka pendek.

Baca Juga:  Harga TBS Sawit Riau Periode 3 - 9 Juli 2024 Sebesar Rp2.940 per Kg

Untuk perdagangan Jumat (6/3/2026), harga CPO berpotensi mengalami tekanan turun dengan area support terdekat di MYR 4.149–4.119 per ton. Jika tekanan berlanjut dan menembus pivot point di MYR 4.096, harga berpotensi turun lebih jauh menuju MYR 4.069 hingga MYR 3.932 per ton, bahkan dalam skenario paling pesimistis bisa mencapai MYR 3.566 per ton.

Sebaliknya, apabila tren penguatan masih berlanjut, level MYR 4.246 per ton menjadi resisten terdekat. Jika berhasil ditembus, harga berpeluang naik ke MYR 4.259 per ton, dengan target optimistis di sekitar MYR 4.463 per ton.

Sumber: Bloomberg Technoz