Bisnissawit.com – Pemerintah Provinsi Riau resmi menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya untuk periode 11–17 Maret 2026. Penetapan ini berlaku untuk berbagai kelompok umur tanaman sawit, dengan harga tertinggi berada pada tanaman berusia 9 tahun yang mencapai Rp3.682,22 per kilogram.
Dalam keputusan tersebut, harga TBS mengalami kenaikan sebesar Rp129,83 per kilogram untuk kelompok umur 9 tahun dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini menjadi kabar baik bagi petani sawit di Riau, mengingat kelompok umur tersebut umumnya merupakan usia tanaman yang sedang berada pada masa produksi optimal.
Secara rinci, harga TBS sawit di Riau ditetapkan berdasarkan umur tanaman. Untuk tanaman usia 3 tahun sebesar Rp2.853,59/kg, usia 4 tahun Rp3.180,97/kg, usia 5 tahun Rp3.412,02/kg, usia 6 tahun Rp3.542,97/kg, dan usia 7 tahun Rp3.623,06/kg. Sementara untuk usia 8 tahun ditetapkan Rp3.666,73/kg, dan usia 9 tahun Rp3.682,22/kg yang menjadi harga tertinggi pada periode ini.
Untuk tanaman yang sudah memasuki usia 10 hingga 20 tahun, harga TBS berada di angka Rp3.644,86/kg. Setelah itu harga mulai menurun seiring bertambahnya umur tanaman, seperti usia 21 tahun Rp3.584,42/kg, 22 tahun Rp3.514,54/kg, 23 tahun Rp3.435,08/kg, hingga usia 30 tahun Rp3.102,22/kg.
Penetapan harga tersebut dihitung berdasarkan sejumlah indikator industri sawit, termasuk harga minyak sawit mentah (CPO) yang pada periode ini berada di angka Rp14.776,36 per kilogram, serta harga inti sawit (kernel) sebesar Rp14.244,93 per kilogram. Selain itu, harga cangkang sawit tercatat sebesar Rp22,60 per kilogram.
Adapun dalam perhitungan harga TBS periode ini, indeks K yang menjadi indikator pembagian keuntungan antara perusahaan dan petani ditetapkan sebesar 92,66 persen, dengan biaya operasional tidak langsung (BOTL) sebesar 0,49 persen.
Kenaikan harga TBS ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sawit swadaya di Riau sekaligus menjaga stabilitas industri kelapa sawit daerah, yang selama ini menjadi salah satu sektor utama penopang perekonomian masyarakat dan daerah.