7 Juli 2025
Share:

Bisnissawit.com – PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) diproyeksikan akan mengalami pemulihan kinerja pada paruh kedua tahun 2025, meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Perusahaan optimis bahwa produksi minyak kelapa sawit (CPO) di kuartal II 2025 akan menunjukkan perbaikan dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

“Kami berharap capaian produksi CPO pada semester I tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu dan masih sesuai dengan target yang ditetapkan,” ujar Stefanus Darmagiri, Head of Investor Relations SGRO, dilansir dari Kontan, Senin (1/7).

Meski demikian, Stefanus mengakui bahwa produksi tandan buah segar (TBS) dan CPO pada Mei 2025 mengalami sedikit penurunan dibanding April 2025. Namun, ia belum merinci data pasti mengenai volume produksinya.

Sebagai informasi, SGRO mencatat pertumbuhan produksi CPO sebesar 11% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2025. Sementara itu, target pertumbuhan produksi TBS SGRO di sepanjang tahun ini dipatok naik 5% yoy.

Terkait dinamika regulasi global, Stefanus menegaskan bahwa kebijakan internasional, seperti penurunan bea masuk CPO ke India, tidak berdampak signifikan terhadap kinerja SGRO karena seluruh penjualan CPO mereka difokuskan untuk kebutuhan domestik. Bahkan, volume penjualan CPO SGRO naik 25% yoy per kuartal I 2025.

Soal harga jual, SGRO menyadari bahwa rata-rata harga jual CPO akan sangat ditentukan oleh dinamika pasar. Namun, program mandatori B40 yang mulai dijalankan di 2025 diyakini akan menjaga harga CPO tetap stabil. SGRO pun tengah bersiap menghadapi kebijakan lanjutan berupa implementasi B50 yang dijadwalkan pada 2026.

Pengamat pasar modal dan Direktur PT Rumah Para Pedagang, Kiswoyo Adi Joe, turut optimistis terhadap potensi perbaikan kinerja SGRO di semester II 2025. Menurutnya, sinyal kebangkitan sudah terlihat sejak laporan keuangan kuartal I 2025 serta komitmen perusahaan dalam membagikan dividen dari laba tahun buku 2024.

Baca Juga:  Harga CPO Menguat Tipis di Bursa Malaysia, Tertopang Lonjakan Minyak Mentah

Ia menambahkan, SGRO saat ini juga masih menjalankan program peremajaan (replanting) untuk pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif. Namun, sebagian besar tanaman yang masih aktif berproduksi berada pada usia 13–15 tahun, yang disebut sebagai masa produktif terbaik pohon sawit.

Kebijakan pemerintah mengenai program biodiesel juga turut mendukung prospek SGRO. Dengan pasar yang sepenuhnya domestik, implementasi B40 dan rencana B50 dinilai dapat memperluas pasar dan serapan produk sawit SGRO.

Mengenai rencana perubahan struktur usaha menjadi holding, Kiswoyo menilai hal itu tidak akan memengaruhi kinerja SGRO secara negatif, selama anak usaha yang menangani produksi sawit tetap dipertahankan.

Dari sisi pasar modal, saham SGRO saat ini berada di level Rp 2.420 per saham, tumbuh 13,08% secara year-to-date (YTD). Dalam lima tahun terakhir, saham ini juga telah mencatat kenaikan sebesar 2,54%. Rasio price to book value (PBV) SGRO berada di level 0,73 kali, yang menurut Kiswoyo masih termasuk undervalued. Ia mencatat bahwa saham SGRO kurang likuid bukan karena kinerja perusahaan yang lemah, melainkan akibat kurangnya publikasi yang mengakibatkan minimnya transaksi investor.

Meski demikian, SGRO tetap menjadi perusahaan yang rajin membagikan dividen dengan jumlah yang cukup menarik. Terakhir, SGRO mengucurkan dividen tunai sebesar Rp 600,14 miliar dari laba tahun 2024, dengan pembagian sebesar Rp 330 per lembar saham.

Atas dasar tersebut, Kiswoyo memberikan rekomendasi beli untuk saham SGRO dengan target harga Rp 3.700 per saham. “SGRO layak dikoleksi, terutama bagi investor yang mencari kepastian pembagian dividen,” ujarnya.

Dari sisi teknikal, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan saham SGRO berada pada area support Rp 2.350 dan resistance Rp 2.470. Untuk saat ini, ia menyarankan investor mengambil sikap wait and see.

Baca Juga:  Mutiara Panjaitan Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum dengan Gagasan Pembentukan Badan Otoritas Sawit Indonesia

Sementara itu, analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat SGRO berada di posisi support MA50 di kisaran Rp 2.350 dengan resistance Rp 2.560. Menurutnya, pergerakan saham masih stabil dalam kanal sideways dengan peluang rebound. Indikator RSI ada di 46 dan MACD histogram menunjukkan angka -4. Atas analisis ini, Wafi juga memberikan rekomendasi beli untuk saham SGRO dengan target harga Rp 2.560 per saham. (*)