Bisnissawit.com – China menjadi salah satu konsumen minyak nabati dan lemak hewani terbesar di dunia dengan konsumsi tahunan mencapai sekitar 38 juta ton. Namun, kapasitas produksi dalam negeri hanya mampu mencukupi sekitar 64 persen kebutuhan tersebut. Untuk menutupi kekurangan ini, China harus mengimpor sekitar 14 juta ton setiap tahunnya, hal ini dikutip dari situs bpdp.or.id, Jumat (25/7/25).
Dinamika konsumsi minyak nabati dan lemak di China terus mengalami perubahan yang dipengaruhi berbagai faktor seperti pertumbuhan ekonomi, perubahan demografi dan urbanisasi, serta pergeseran preferensi masyarakat. Konsumsi per kapita pun menunjukkan tren meningkat, dari 23,2 kg per orang pada tahun 2010 menjadi sekitar 27,4 kg per orang pada tahun 2020.
Yang menarik, dalam dua dekade terakhir, posisi minyak sawit dalam struktur konsumsi minyak nabati China semakin penting. Pada tahun 2000, konsumsi didominasi minyak rapeseed dan kacang tanah. Namun, pada tahun 2020, minyak kedelai mendominasi diikuti oleh minyak sawit, minyak bunga matahari, rapeseed, dan kacang tanah (Oil World, 2024; PASPI, 2024). Tren ini menempatkan China sebagai konsumen minyak sawit terbesar keempat di dunia setelah Indonesia, India, dan Uni Eropa.
Minyak sawit tidak hanya berkontribusi pada konsumsi pangan, tetapi juga menjadi bahan baku utama di berbagai sektor industri domestik China. Data PASPI (2025) menunjukkan bahwa sektor catering menjadi pengguna terbesar minyak sawit, diikuti oleh industri oleokimia, mie instan, pengolahan makanan, solid fat, dan biodiesel.
Besarnya pemanfaatan minyak sawit dalam berbagai sektor menunjukkan adanya proses hilirisasi yang signifikan di China. Proses ini tidak hanya menghasilkan produk akhir yang dibutuhkan, tetapi juga memberikan efek ekonomi berantai berupa penciptaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat.
Studi European Economic (2016) memperkirakan bahwa setiap ton minyak sawit yang diimpor ke China menciptakan sekitar 115 lapangan kerja dan menghasilkan pendapatan sekitar US$901, dengan total kontribusi mencapai 0,68 juta tenaga kerja dan US$5,6 miliar pendapatan.
Dengan demikian, peran impor minyak sawit bagi China tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan konsumsi minyak nabati, namun juga menopang pertumbuhan industri dalam negeri dan memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penciptaan nilai tambah. Minyak sawit bukan sekadar komoditas, tetapi juga menjadi penggerak penting roda ekonomi dan pembangunan di China.