Bisnissawit.com – Chairman Asian Palm Oil Alliance (APOA), Atul Chaturvedi, dalam ajang IPOC 2025, menegaskan bahwa India sedang berada pada titik penting dalam upaya memenuhi kebutuhan minyak nabatinya. Dengan konsumsi yang terus meningkat dan ketergantungan impor yang mencapai level tinggi, India dinilai harus mengambil langkah serius untuk meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus memperkuat kemitraan dengan negara produsen.
“India adalah pasar minyak nabati terbesar di dunia, tetapi juga yang paling rapuh karena 60% kebutuhannya masih bergantung pada impor. Ini tantangan besar yang tidak bisa diselesaikan hanya lewat kebijakan tarif. Kita butuh peningkatan produksi domestik serta kolaborasi regional yang lebih kuat,” ujar Chaturvedi.
Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa permintaan minyak nabati di India diprediksi akan melonjak seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi. Sebagai ekonomi terbesar kelima dunia dan diproyeksikan naik ke posisi ketiga pada 2030, India kini menyumbang 11% permintaan minyak nabati global. Konsumsi nasional mencapai 26,5 juta ton, dengan minyak sawit menyumbang 37%. Impor sawit mencapai 8,25 juta ton, atau setengah dari total impor minyak nabati negara tersebut.
Memasuki 2047, konsumsi minyak nabati India diperkirakan menyentuh 50 juta ton, dengan konsumsi sawit dapat meningkat hingga 19 juta ton. “Pertanyaannya sederhana tapi sangat penting: dari mana semua kebutuhan itu akan dipenuhi?” tegasnya.
India telah berulang kali menyesuaikan tarif impor untuk menjaga stabilitas harga bagi konsumen dan petani. Namun menurut Chaturvedi, strategi ini tidak bisa dijadikan pegangan jangka panjang. “Tarif tinggi justru seperti memakan diri sendiri. Bukan menekan eksportir luar negeri, tapi membuat konsumen dalam negeri terbebani. Harga naik, daya beli melemah, industri pun ikut tertahan.”
Sebagai solusi, India menjalankan program National Mission on Edible Oil–Oil Palm, dengan rencana pengembangan kebun sawit mencapai 1 juta hektare pada 2026 dan 1,67 juta hektare pada 2030. Target produksi sawit pada 2030 dipatok mencapai 2,8 juta ton. Program ini mencakup bantuan benih senilai USD 135–330 per hektare, penetapan harga dasar untuk melindungi petani dari fluktuasi global, hingga insentif khusus di kawasan India Tenggara, Andaman, dan Nicobar. Pemerintah juga memperluas kebun benih, membangun irigasi, dan meningkatkan kapasitas petani.
Namun realisasinya diperkirakan jauh dari target. Penanaman sawit kemungkinan hanya mencapai 500.000 hektare pada 2026 dan 750.000 hektare pada 2030. Dengan capaian tersebut, peluang India mencapai swasembada minyak sawit dinilai kecil. Saat ini, produksi CPO India hanya 350.000–400.000 ton per tahun, sementara target 2030 dipatok 750.000–1 juta ton.
Hanya negara bagian Andhra Pradesh dan Telangana yang menunjukkan progres berarti. Wilayah lainnya berjalan lambat dan kurang antusias. Selain itu, produktivitas sawit India masih rendah, hanya 1,35–1,4 ton per hektare, jauh di bawah produktivitas Indonesia.
Ke depan, konsumsi minyak nabati India dipastikan tetap tinggi dan terus meningkat. Distribusi konsumsi juga tidak merata seperti wilayah barat yang lebih makmur bisa mencapai 25 kg per kapita, sementara daerah miskin hanya 10 kg per kapita. Dengan naiknya PDB India, daya beli masyarakat berpenghasilan rendah akan ikut naik sehingga konsumsi minyak nabati ikut bertambah.
India juga sangat sensitif terhadap harga. Perbedaan harga antara minyak kedelai dan minyak sawit selalu dipantau, sehingga minyak sawit harus tetap kompetitif agar bisa masuk pasar India dalam volume besar. Chaturvedi juga menyinggung pentingnya ekspansi sawit Indonesia untuk memastikan pasokan bagi India tetap terjaga.
APOA sendiri telah menandatangani MoU dengan CPOPC untuk menangkal persepsi negatif tentang sawit dan melawan kampanye anti-sawit, termasuk di media sosial.