12 Januari 2026
Share:

Bisnissawit.com — Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa minyak sawit tetap menjadi komoditas unggulan ekspor Indonesia ke Pakistan sekaligus penopang penting hubungan dagang kedua negara. Pernyataan itu disampaikan saat ia memberikan sambutan kunci pada pembukaan Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) ke-8 di Karachi, Sabtu (10/1).

Dalam kesempatan tersebut, Wamendag Roro menekankan kesiapan Indonesia untuk terus menjadi pemasok minyak sawit yang andal dan stabil bagi Pakistan di tengah ketidakpastian global. Indonesia, katanya, berupaya memastikan kebutuhan minyak sawit Pakistan terpenuhi secara berkelanjutan, terukur, dan transparan dalam jangka panjang.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Pakistan merupakan tujuan ekspor minyak sawit terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan India. Nilai ekspor pada 2025 tercatat mencapai USD 2,77 miliar. Angka ini mencerminkan kepercayaan Pakistan terhadap konsistensi pasokan, mutu produk, daya saing, serta harga minyak sawit Indonesia.

Di Pakistan sendiri, minyak sawit menjadi minyak nabati yang paling banyak digunakan. Konsumsi domestiknya pada 2025 diperkirakan hampir mencapai 3–4 juta metrik ton dan menopang berbagai sektor industri, mulai dari pangan olahan hingga oleokimia, sabun, dan deterjen.

Wamendag Roro menambahkan, kemitraan dagang jangka panjang hanya bisa terjaga jika ditopang oleh keandalan, transparansi, dan prinsip keberlanjutan. Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia berkomitmen memperkuat produksi berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan, penegakan hukum, serta tata kelola yang menjaga kelestarian hutan, masyarakat, dan keanekaragaman hayati.

Komitmen tersebut diwujudkan lewat penguatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), peningkatan keterlacakan rantai pasok, modernisasi industri, serta dukungan terhadap petani kecil agar pertumbuhan sektor sawit berlangsung inklusif di sepanjang rantai nilai. Menurut Wamendag Roro, berbagai inisiatif keberlanjutan ini bukan untuk membatasi perdagangan, melainkan menjaga daya saing dan penerimaan minyak sawit Indonesia di pasar global.

Baca Juga:  CIRAD Dorong Digitalisasi Sawit di IPOC 2025: Produktivitas Naik, Dampak Lingkungan Turun

Dari sisi kebijakan tarif, Pakistan telah menurunkan bea masuk minyak sawit dari 4,5 persen menjadi 3,8 persen. Wamendag Roro mengapresiasi langkah tersebut karena terbukti berdampak signifikan secara komersial. Penurunan tarif berkontribusi pada peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan sebesar 10–15 persen secara berkala, sekaligus menunjukkan bahwa perbaikan fasilitas tarif dapat menjadi pendorong perluasan kerja sama lintas sektor.

Ke depan, Indonesia membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di luar perdagangan minyak sawit. Opsi kerja sama mencakup pembentukan usaha patungan di sektor pemurnian dan pengolahan, investasi di bidang logistik, penyimpanan, dan infrastruktur pelabuhan, kolaborasi minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari, hingga kerja sama sertifikasi halal dan harmonisasi standar. Sektor-sektor tersebut dinilai berpotensi menciptakan nilai tambah, alih teknologi, dan lapangan kerja bagi kedua negara.

Indonesia juga mendorong hubungan dagang yang lebih seimbang dan terdiversifikasi. Pada 2025, ekspor Pakistan ke Indonesia meliputi tekstil dan garmen, produk pertanian, pangan olahan, serta jasa teknologi informasi mencapai USD 3,49 miliar.

Wamendag Roro menegaskan pentingnya kerangka kerja sama perdagangan yang kuat. Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) yang berlaku sejak 2013 dinilai menjadi fondasi peningkatan perdagangan bilateral melalui penghapusan dan penurunan tarif serta pemberian kepastian bagi pelaku usaha. Ke depan, kedua negara bersiap memperluas PTA menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027.

Dalam skema ini, Indonesia memperluas penghapusan tarif untuk produk unggulan Pakistan seperti perikanan, pertanian, tekstil, dan produk sintetis, sementara Pakistan menghapus tarif bagi sejumlah produk Indonesia, termasuk vanila, bubuk kakao, singkong, ubi jalar, karet alam, dan kulit untuk kebutuhan industri.

Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan menyatakan kehadiran Indonesia di PEOC menjadi sinyal positif bagi penguatan hubungan dagang kedua negara. Ia menilai Indonesia sebagai mitra strategis Pakistan dan berharap kerja sama yang terjalin dapat meningkatkan stabilitas makroekonomi, kemudahan berusaha, serta mendorong perdagangan dan investasi yang berkelanjutan.

Baca Juga:  22 Hari Lagi Jelang 2nd TPOMI 2024, Para Ahli Diskusi Teknologi Kelapa Sawit

Senada, CEO PEOC Rasheed Jan Mohammad menegaskan peran Indonesia sebagai mitra utama Pakistan dalam pemenuhan kebutuhan minyak nabati. Ia menyoroti pentingnya keberlanjutan pasokan dan kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan bagi kedua negara.