15 April 2026
Share:

Bisnissawit.comINSTIPER Yogyakarta memperkenalkan penggunaan malam batik berbahan kelapa sawit kepada para pengrajin batik di Kampung Tamansari sebagai bagian dari upaya mendorong produksi batik yang lebih ramah lingkungan.

Batik sendiri telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2009. Selain itu, Yogyakarta juga ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia pada 2014 karena dinilai memiliki sejarah, keaslian, pelestarian, hingga dampak ekonomi yang kuat terhadap perkembangan batik.

Namun, di balik pelestarian batik, masih terdapat tantangan dalam penggunaan malam konvensional yang selama ini bergantung pada paraffin berbahan fosil. Untuk itu, stearin yang berasal dari fraksi padat minyak kelapa sawit dinilai memiliki potensi sebagai bahan pengganti karena mempunyai karakteristik fisik yang serupa dengan paraffin. Pada 2025, inovasi malam batik kelapa sawit mulai diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Tim pengabdian masyarakat INSTIPER yang dipimpin oleh Betti Yuniasih, M.Sc. kemudian melakukan edukasi dan pendampingan kepada anggota Paguyuban Batik Kampung Tamansari selama Januari hingga April 2026. Sebanyak 10 pengrajin mengikuti kegiatan tersebut.

Betti Yuniasih mengatakan, “Pemilihan lokasi di Kampung Tamansari dikarenakan lokasi ini merupakan salah satu sentra batik di Yogyakarta dan juga merupakan salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga harapannya kegiatan ini juga menjadi salah satu kampanye positif untuk memperkenalkan produk turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan tidak hanya kepada pengrajin batik namun juga pada wisatawan yang berkunjung.”

Ia menambahkan bahwa para pengrajin di kawasan tersebut sebelumnya belum pernah menggunakan malam batik berbahan kelapa sawit sehingga dinilai tepat menjadi sasaran edukasi.

Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman peserta mengenai malam batik dan pemanfaatan stearin sebagai bahan pengganti paraffin. Hasilnya menunjukkan sebagian besar peserta belum mengenal malam batik kelapa sawit dan belum pernah menggunakannya dalam proses membatik. Setelah itu, peserta mendapatkan materi edukasi, praktik membatik menggunakan malam kelapa sawit, uji kualitas, diskusi kelompok, hingga pendampingan lanjutan.

Baca Juga:  Palmco Siapkan 10.154 ha Plasma untuk PSR 2024

Dari hasil pengujian yang dilakukan, para pengrajin menilai malam kelapa sawit memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan malam konvensional berbahan paraffin.

Ketua Paguyuban Batik Kampung Tamansari, Iwan Setiawan, mengatakan, “Hasil pengujian kualitas malam kelapa sawit menunjukkan kualitas yang lebih baik daripada malam yang biasa kami pakai. Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asap yang ditimbulkan lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat.”

Menurutnya, malam berbahan kelapa sawit juga lebih mudah digunakan saat proses mencanting karena tidak lengket sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien. Selain itu, hasil batikan dinilai lebih baik karena malam tidak mudah retak dan mampu menahan warna dengan optimal. Setelah proses pelorodan, kain juga terlihat lebih bersih tanpa meninggalkan sisa malam.

Melalui kegiatan ini, INSTIPER berharap pengrajin batik di Kampung Tamansari mulai beralih menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan industri batik. Stearin dari minyak kelapa sawit dinilai dapat menjadi alternatif pengganti paraffin karena bersifat biodegradable, terbarukan, dan memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah.

Iwan Setiawan juga menyampaikan harapannya agar kolaborasi dengan INSTIPER maupun pihak lain dapat terus dilanjutkan.

“Kami tertarik untuk beralih ke malam batik kelapa sawit karena lebih ramah lingkungan. Kami juga berharap kerja sama dengan INSTIPER atau pihak-pihak terkait dapat berlanjut. Kami terbuka jika ada pihak seperti perusahaan kelapa sawit mau berkolaborasi dengan kami untuk mewujudkan eco-batik lestari,” ujar Iwan.