15 November 2025
Share:

Bisnissawit.com – CEO Westbury Group sekaligus Chairman Pakistan Edible Oil Refiners Association, Abdul Rasheed Jan Mohammad, mengungkapkan bahwa pasar minyak nabati dunia tengah diguncang perubahan besar dalam beberapa pekan terakhir. Ia menilai lonjakan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia terjadi di luar perkiraan dan menjadi faktor utama menekan harga global.

“Pasar mengalami volatilitas besar karena peningkatan produksi dari Indonesia dan Malaysia, yang sebelumnya tidak diprediksi banyak pelaku pasar,” ujarnya dalam sesi presentasi di Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11).

Selain produksi yang meningkat, situasi global ikut memperburuk kondisi pasar. Kebijakan biodiesel Indonesia dinilai belum menunjukkan kejelasan, sementara perang tarif antarnegara besar terus menciptakan ketidakpastian untuk jangka pendek maupun panjang. “Kebijakan Indonesia terkait B50 masih belum jelas. Perang tarif masih menjadi faktor dominan,” kata Jan Mohammad.

Dengan konsumsi per kapita sekitar 18 kilogram, kebutuhan minyak nabati Pakistan terus bertambah. Ia menyebut konsumsi nasional mencapai 4,5 juta ton, sedangkan produksi lokal hanya 0,5 juta ton, hal ini mendorong ketergantungan impor semakin besar.

“Hingga Oktober tahun ini, kami sudah menerima 3 juta ton minyak, dan kemungkinan dalam dua bulan ke depan totalnya mencapai 3,4 hingga 3,5 juta ton. Itu naik sekitar 12 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi pemasok terbesar minyak sawit Pakistan dengan pangsa sekitar 87–90 persen selama empat tahun terakhir. Namun, struktur tarif di Pakistan justru sulit bagi industri penyulingan lokal untuk memanfaatkan crude palm oil (CPO).

“Struktur tarif kami tidak mendukung impor CPO, ditambah lagi pajak ekspor CPO di Indonesia dan Malaysia membuatnya tidak layak bagi kami untuk mengimpor minyak sawit mentah,” ujarnya.

Baca Juga:  Saham Sawit NSSS: Samuel Tumbuh Bersama Lepas Rp40,8 Miliar

Pakistan juga sempat melarang impor kedelai dan kanola GMO selama dua tahun terakhir, yang menyebabkan biaya impor naik dan distribusi terganggu. Namun sejak Januari, impor keduanya kembali dibuka, terutama dari AS dan Brasil. Sepanjang 2025, Pakistan telah mendatangkan 1,75 juta ton kedelai dari kedua negara tersebut.

Di tengah kondisi pasar yang dinamis, kebijakan B50 Indonesia menjadi sorotan karena berpotensi mengubah alokasi minyak sawit dunia. Jan Mohammad menilai belum ada kepastian implementasi program tersebut dan mempertanyakan prioritas penggunaan minyak sawit.

“Apakah perlu meningkatkan campuran menjadi B50 saat harga minyak mentah sedang lemah? Apakah minyak sawit seharusnya lebih diutamakan untuk pangan atau energi?” katanya.

Ia mengingatkan, apabila Indonesia benar-benar menjalankan B50, negara importir seperti Pakistan kemungkinan akan menghadapi pasokan yang semakin ketat.