9 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Ancaman jamur Ganoderma terhadap perkebunan sawit Indonesia kian nyata. Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang ditimbulkannya disebut-sebut mampu melumpuhkan produktivitas sawit nasional jika tidak diantisipasi sejak dini. Hal ini menjadi sorotan utama dalam gelaran International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026, forum tahunan yang mempertemukan praktisi, akademisi, peneliti, hingga pelaku usaha sawit.

Dalam satu dekade terakhir, tren penurunan produktivitas sawit terjadi hampir di seluruh wilayah. Tidak hanya kebun rakyat, perusahaan besar dengan standar budidaya tinggi pun terdampak. Fakta ini mempertegas bahwa Ganoderma bukan lagi persoalan lokal, melainkan ancaman sistemik bagi industri sawit nasional.

Prediksi serius bahkan disampaikan oleh sejumlah praktisi yang menyebutkan bahwa pada 2039 seluruh kebun sawit di Indonesia berpotensi terpapar Ganoderma jika tidak ada langkah pencegahan yang masif dan terstruktur. Pernyataan tersebut menjadi alarm keras bagi keberlanjutan industri sawit yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Ir. Indra Syahputra, MP., mengungkapkan bahwa penurunan produktivitas dalam sepuluh tahun terakhir adalah realitas yang tidak dapat diabaikan.

“Dulu produktivitas bisa mencapai 6 ton CPO per hektar, sekarang rata-rata sekitar 5,5 ton. Itu pun masih termasuk yang tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya memang Ganoderma,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan semakin kompleks karena banyak kebun dikembangkan di lahan marginal dengan bibit yang tidak jelas kualitasnya serta praktik budidaya yang belum optimal. Kondisi tersebut membuat tingkat serangan penyakit semakin sulit dikendalikan, terutama di kebun rakyat.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Hendra J. Purba, menekankan pentingnya penggunaan bibit toleran Ganoderma, terutama dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Ia menjelaskan bahwa serangan pada kebun dengan bibit toleran dapat ditekan hingga sekitar 3 persen, sementara kebun tanpa bibit toleran bisa mencapai 14 persen.

Baca Juga:  PTPN IV PalmCo Terus Hadir Dampingi Warga Aceh Tamiang dari Masa Darurat hingga Pemulihan

“Saat ini produktivitas nasional rata-rata masih di kisaran 3–3,5 ton per hektar per tahun. Untuk mencapai 4 ton saja sudah sangat baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, potensi produksi sawit Indonesia sebenarnya mampu menembus 5–6 ton per hektar per tahun jika dikelola secara benar dan berbasis prinsip budidaya yang baik. Karena itu, pendekatan pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama.

ISGANO 2026 yang digelar pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan tidak hanya membahas Ganoderma sebagai penyakit, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir pelaku industri agar lebih fokus pada manajemen kesehatan tanaman secara menyeluruh. Forum ini turut menghadirkan kunjungan lapangan ke kebun milik PT Socfin Indonesia dan PPKS guna melihat praktik pengendalian di lapangan.

Dukungan terhadap peningkatan kapasitas petani juga datang dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang memfasilitasi partisipasi sejumlah petani dalam forum ini agar mereka dapat memperoleh akses langsung terhadap pengetahuan dan strategi pengendalian terbaik.

Melalui ISGANO 2026, industri sawit kembali diingatkan bahwa Ganoderma bukan sekadar gangguan teknis, melainkan ancaman serius terhadap daya saing dan keberlanjutan sawit Indonesia. Kesadaran sejak dini, kolaborasi lintas sektor, penggunaan bibit unggul, serta penerapan budidaya yang tepat menjadi fondasi penting agar sawit nasional tidak benar-benar “lumpuh” di masa depan.