10 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Ancaman penyakit ganoderma yang semakin menggerus produktivitas kelapa sawit nasional menjadi sorotan utama dalam 3rd International Symposium on Ganoderma (ISGANO) 2026 yang resmi digelar di Medan. Forum ilmiah dan industri ini mempertemukan petani, praktisi, akademisi, pelaku usaha, hingga regulator dari berbagai daerah untuk duduk bersama mencari solusi konkret menghadapi serangan ganoderma secara nasional.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ir. Baginda Siagian, M.Si yang mewakili Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan. Dalam sambutannya, ia menyinggung perjalanan panjang sawit Indonesia yang bermula dari empat benih pada tahun 1848 hingga kini berkembang menjadi sekitar 16,38 juta hektare pada 2026.

Ia menegaskan bahwa persoalan ganoderma sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. “Ganoderma saat ini telah menyerang sekitar 30–35 persen kebun sawit. Kita belum memiliki state of the art nasional, sehingga diperlukan kolaborasi semua pihak untuk menyusun pedoman bersama dalam menghancurkan ganoderma secara kolektif,” tegasnya. Menurutnya, ISGANO menjadi langkah awal untuk memperkuat standar dan strategi nasional pengendalian ganoderma.

Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, MM, dalam sambutannya mengingatkan bahwa sawit merupakan komoditas strategis yang harus dijaga keberlanjutannya. Ia menyebut kelapa sawit sebagai anugerah dengan tingkat efisiensi tertinggi dibandingkan tanaman perkebunan lain.

“Sawit menyumbang lebih dari 80 persen devisa sektor perkebunan dan hampir seluruh aspek kehidupan kita bersentuhan dengan produk turunan sawit dari pangan hingga energi terbarukan,” ujarnya.

Bambang juga menyoroti bahwa sawit kerap dijadikan kambing hitam dalam isu lingkungan. Padahal, menurutnya, tanaman sawit memiliki daya serap tinggi dan mampu mengurangi limpasan air (run off) lebih baik dibandingkan komoditas seperti gandum dan kedelai. Ia turut mendorong percepatan sertifikasi ISPO yang saat ini baru mencapai sekitar 35 persen, serta mengapresiasi peran BPDP dalam pengembangan SDM dan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Baca Juga:  Wapres Ma'ruf Amin Harapkan KDEKS Dorong Perekonomian

“Negara harus hadir menjamin keberlanjutan sawit Indonesia. Ganoderma harus kita diskusikan dan kendalikan agar sawit tumbuh pada tempatnya,” tegasnya kembali.

Ketua Panitia ISGANO 2026, Hendra J. Purba, menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta dan menegaskan bahwa ganoderma bukan ancaman biasa. Ia mengutip pernyataan Tony Liwang mengenai potensi dampak jangka panjang penyakit tersebut.

“Jika tidak ditangani secara serius dan terstruktur, seperti yang dikatakan oleh Tony Liwang, pada tahun 2039 seluruh perkebunan kelapa sawit Indonesia berpotensi terdampak ganoderma. ISGANO hadir sebagai ruang bersama untuk mencari solusi dari ancaman tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) Bidang Agronomi, Dr. (c). H. Dadang Gusyana, S.Si., M.P, menyebut ganoderma sebagai titik krusial yang tidak bisa lagi diabaikan.

“P3PI berkomitmen untuk berpikir dan bekerja keras, berkolaborasi, serta berdedikasi dalam mencari solusi ganoderma demi kejayaan sawit Indonesia,” ujarnya.

Sebagai keynote speaker, Direktur Utama PTPN IV PalmCo yang diwakili Abdul Muthalib mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak langsung ganoderma pada produktivitas kebun. Ia memaparkan bahwa sekitar 80 persen kematian tanaman sawit disebabkan oleh serangan penyakit ini, dengan total 860.533 pohon di kebun PalmCo terdampak dalam berbagai tingkat serangan, dari ringan hingga berat.

“Ganoderma berpotensi memicu krisis ekonomi jika tidak dikendalikan secara serius,” tegasnya.

Melalui ISGANO 2026, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa pengendalian ganoderma tidak dapat dilakukan secara parsial atau per kasus. Diperlukan sinergi nasional, kolaborasi berkelanjutan, serta komitmen bersama agar industri kelapa sawit Indonesia tetap produktif, tangguh, dan berkelanjutan di tengah ancaman penyakit yang semakin kompleks.