15 Januari 2026
Share:

Bisnissawit.com — Pemanfaatan bibit kelapa sawit yang toleran terhadap Ganoderma kini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program nasional Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sekaligus upaya meningkatkan produktivitas sawit yang berkelanjutan. Di tengah dominasi kebun sawit berusia lanjut yang telah terpapar akumulasi Ganoderma boninense, kegiatan replanting tanpa material tanam yang memiliki ketahanan memadai berpotensi mengulang kegagalan produktivitas pada siklus tanam berikutnya.

Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia/GAPKI sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Ir. Indra Syahputra, MP, menjelaskan bahwa hingga kini Indonesia baru memiliki tujuh produsen bibit sawit yang mampu memproduksi material tanam toleran Ganoderma. Perusahaan tersebut meliputi Socfin Indonesia (pelopor sejak 2013), Lonsum (2015), Sinarmas (2016), PPKS (2017), serta Asian Agri, Bakrie, dan Astra pada tahun-tahun berikutnya.

“Secara total, kapasitas produksi bibit toleran Ganoderma saat ini baru sekitar 17 juta kecambah per tahun. Jumlah ini masih sangat jauh dari kebutuhan nasional,” ujar Indra.

Ia memaparkan, dari sekitar 17 juta hektare kebun sawit nasional, diperkirakan sekitar 40 persen telah memasuki generasi tanam kedua hingga ketiga, bahkan lebih. Kondisi ini membuat kebutuhan replanting menjadi sangat mendesak. Pada kebun generasi lanjut tersebut, akumulasi Ganoderma telah mencapai tingkat berbahaya dan berpotensi menekan produktivitas secara signifikan.

“Jika diasumsikan ada 16 juta hektare kebun yang perlu diremajakan, maka kebutuhan replanting mencapai sekitar 640 ribu hektare per tahun. Dengan kebutuhan rata-rata 200 kecambah per hektare, Indonesia semestinya memerlukan sekitar 128 juta kecambah setiap tahun. Sementara kapasitas yang tersedia baru 17 juta. Artinya, kesenjangan pasokan masih sangat besar,” tegasnya.

Indra menekankan bahwa efektivitas bibit toleran Ganoderma telah terbukti di kebun komersial. Di areal Socfin, blok yang menggunakan material resisten menunjukkan tingkat infeksi Ganoderma yang jauh lebih rendah. Pada umur tanaman yang sama, kebun dengan material tahan Ganoderma mencatat serangan sekitar 3 persen, sedangkan kebun dengan bibit konvensional bisa mencapai 14 persen.

Baca Juga:  Saham Emiten CPO Grup Sinar Mas (SMAR) Melonjak, Investor Dukung Kepatuhan Regulasi

“Ini bukan sekadar uji coba skala kecil, melainkan data nyata dari kebun komersial. Artinya, material tanam toleran Ganoderma benar-benar bekerja dan mampu menekan laju infeksi,” jelasnya.

Meski begitu, ia mengakui bahwa tingkat ketahanan antar-sumber benih dapat berbeda, tergantung metode seleksi dan proses screening yang diterapkan. Namun secara umum, seluruh material resisten tersebut terbukti jauh lebih unggul dibandingkan bibit biasa.

Indra juga menyoroti masih rendahnya kesadaran penggunaan bibit tahan Ganoderma, baik di kalangan perusahaan maupun petani, termasuk dalam program PSR. Banyak kebun yang diremajakan masih menggunakan bibit non-toleran, sehingga berisiko menghadapi persoalan yang sama di masa depan, terutama di lahan gambut.

“Padahal jika dihitung secara ekonomi, selisih harga bibit itu relatif kecil dibandingkan potensi kerugian jangka panjang. Tambahan biaya sekitar Rp1,8 juta per hektare untuk bibit tahan Ganoderma bisa mencegah kerugian ratusan juta hingga mendekati Rp1 miliar per hektare selama 25 tahun masa tanam,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa persoalan Ganoderma tidak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu melalui penggunaan bibit toleran, manajemen replanting yang terencana, serta penguatan kolaborasi melalui Konsorsium Ganoderma Indonesia agar pengendalian dapat berlangsung berkelanjutan dan berbasis data.

Sebagai bagian dari penguatan pemahaman dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, Indra mengajak pelaku industri sawit, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan untuk berpartisipasi dalam 3rd ISGANO 2026 (International Symposium Ganoderma) Conference and Exhibition yang akan digelar pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan.

Dalam ajang tersebut, akan tersedia pameran bibit kelapa sawit toleran Ganoderma yang menampilkan material dan inovasi terbaru dari PPKS, PT Socfin Indonesia, serta Bakrie. Melalui pameran ini, peserta dapat melihat langsung perkembangan bibit toleran Ganoderma, berdiskusi dengan pemulia dan praktisi, serta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

Baca Juga:  APMI Fasilitasi Pembentukan Ikatan Keluarga Mahasiswa BPDPKS di INSTIPER dan Politeknik LPP

Untuk informasi dan pendaftaran 3rd ISGANO 2026, peserta dapat mengunjungi isgano.com atau menghubungi narahubung: (+62) 812 8718 2301 (Ika), (+62) 811 1078 02 (Sekretariat), dan (+62) 812 8169 8248 (Kevin).