13 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Ulat api (nettle caterpillar) masih menjadi salah satu hama defoliator paling merugikan di perkebunan kelapa sawit. Serangan yang tidak tertangani dengan cepat bisa menyebabkan kehilangan tajuk daun secara besar-besaran dalam waktu singkat. Dampaknya bukan hanya pada terganggunya proses fotosintesis, tetapi juga langsung menekan produksi tandan buah segar (TBS).

Dalam forum ISGANO 2026 di Medan, Maman Marwan dari PT UPL Indonesia menegaskan bahwa pengendalian ulat api tidak bisa lagi dilakukan secara biasa. Menurutnya, langkah penanganan harus cepat, akurat, dan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa pola serangan ulat api berkembang sangat cepat dan sering muncul dalam berbagai stadia sekaligus, mulai dari instar awal hingga larva berukuran besar. Situasi ini membuat metode konvensional kerap kurang sigap, terutama saat terjadi ledakan populasi.

“Jika pengendalian terlambat, kehilangan daun akan signifikan dan berdampak pada produktivitas jangka menengah. Karena itu, intervensi harus dilakukan sejak stadia awal,” ujar Maman.

Selama ini, metode yang umum digunakan adalah penyemprotan darat. Namun pendekatan tersebut menghadapi berbagai hambatan, khususnya di kebun dengan tanaman yang sudah memasuki fase matang dan memiliki kanopi tinggi. Akses penyemprotan menjadi terbatas, distribusi larutan kurang merata, dan respons terhadap outbreak sering terlambat akibat keterbatasan tenaga kerja.

Tak hanya itu, faktor keselamatan pekerja dan dampak lingkungan juga menjadi sorotan. Penggunaan insektisida yang tidak tepat sasaran berpotensi mengganggu musuh alami serta meningkatkan risiko paparan bagi aplikator di lapangan.

“Kita perlu solusi yang bukan hanya efektif membunuh hama, tetapi juga presisi dan aman dalam aplikasinya,” jelasnya.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, UPL memperkenalkan inovasi aplikasi berbasis drone yang dipadukan dengan insektisida sistemik Shenzi Plus® 400SC, teknologi yang telah dipatenkan perusahaan. Sistem ini memungkinkan penyemprotan lebih cepat dan merata hingga ke seluruh permukaan kanopi, sehingga efektivitas pengendalian pada berbagai stadia serangan dapat ditingkatkan.

Baca Juga:  Harga CPO Malaysia Kembali Menguat, Didukung Reli Soyoil dan Minyak Mentah Dunia

Walaupun membutuhkan investasi awal yang relatif lebih besar, teknologi drone dinilai lebih efisien dalam jangka panjang karena mampu menghemat tenaga kerja sekaligus meningkatkan keselamatan operasional.

Dalam pemaparan hasil uji lapangan, penggunaan insektisida sistemik melalui drone dengan dosis 75 ml/ha mampu menekan populasi ulat api hingga 98 persen dalam waktu 14 hari setelah aplikasi. Efek residunya pun bertahan lebih dari dua minggu, dengan tingkat efektivitas di atas 95 persen terhadap populasi multistadia.

Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi bahan aktif yang tepat dengan metode aplikasi presisi mampu menghasilkan tingkat kematian hama yang lebih cepat dan stabil dibandingkan metode konvensional.

Maman menekankan bahwa pengendalian ulat api tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia mendorong penerapan prinsip pengelolaan hama terpadu (IPM), termasuk perlindungan musuh alami serta pemantauan populasi secara rutin.

“Ke depan, pengendalian ulat api di perkebunan sawit harus berbasis data, respons cepat, dan teknologi presisi. Dengan demikian, kita tidak hanya menekan hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem kebun,” pungkasnya.