15 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com — Penguatan nutrisi dan perbaikan kesehatan tanah disebut sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya tahan kelapa sawit terhadap penyakit, terutama serangan Ganoderma boninense. Hal ini disampaikan Dr. Witjaksana Darmosakoro dalam presentasinya berjudul “Nutrisi untuk Membuat Tanaman Lebih Tahan terhadap Penyakit” pada rangkaian 3rd ISGANO 2026 di Hotel Adimulia, Medan.

Dalam pemaparannya, Witjaksana menekankan bahwa ketahanan tanaman tidak hanya bergantung pada upaya membasmi patogen, tetapi juga pada kualitas tanah dan keseimbangan unsur hara. Ia mengilustrasikan hubungan tersebut seperti sistem tubuh manusia.

“Kesehatan tanah yang baik ditandai dengan keseimbangan sifat fisik, kimia, dan biologi akan menghasilkan akar yang fungsional, serapan hara yang stabil, serta respon ketahanan tanaman yang lebih efektif,” ujarnya.

Salah satu parameter utama kesehatan tanah adalah kandungan karbon organik (C-organik). Pada perkebunan sawit di tanah mineral, kadar ideal berada di kisaran 2–3 persen. Pada level tersebut, kapasitas tukar kation (KTK) meningkat, keseimbangan unsur kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) lebih terjaga, serta aktivitas mikroorganisme tanah menjadi lebih optimal. Kondisi ini berkontribusi pada penguatan jaringan tanaman dan peningkatan toleransi terhadap infeksi Ganoderma.

Ia menjelaskan bahwa Ganoderma menyerang tanaman melalui pelepasan enzim seperti pektinase, selulase, dan ligninase yang merusak dinding sel akar serta pangkal batang sawit. Namun, tanaman dengan nutrisi seimbang mampu membangun dua sistem pertahanan utama, yakni barier struktural dan barier biokimia.

Barier struktural terbentuk melalui penguatan dinding sel lewat proses lignifikasi dan suberinisasi, sementara barier biokimia melibatkan produksi senyawa fenolik, antioksidan, serta aktivasi hormon pertahanan seperti asam jasmonat.

“Ketika dinding sel rusak, tanaman akan merespons dengan biosintesis senyawa pertahanan. Proses ini membutuhkan energi yang besar. Karena itu, keterkaitan metabolisme energi dengan ketahanan penyakit menjadi sangat penting,” jelasnya.

Baca Juga:  Konferensi Pabrik Sawit 2nd TPOMI 2024: Keberlanjutan, Teknologi dan Ancaman PHK

Dalam mendukung sistem pertahanan tersebut, unsur hara memiliki peran spesifik. Magnesium (Mg) dan fosfor (P) berfungsi dalam pembentukan energi (ATP), kalium (K) berperan dalam pengaturan osmoregulasi dan aktivasi enzim, sedangkan kalsium (Ca) serta boron (B) memperkuat struktur dinding sel agar tidak mudah ditembus patogen. Ketidakseimbangan unsur hara ini akan membuat jaringan tanaman lebih rentan dan memperlambat respons pertahanan alami.

Selain unsur esensial, Witjaksana juga menyoroti peran silikon (Si) sebagai unsur bermanfaat (beneficial element). Meski bukan unsur hara esensial, silikon terbukti mampu memperkuat struktur mekanik jaringan tanaman serta merangsang sistem pertahanan, terutama pada fase bibit dan tanaman muda sawit.

Ia menegaskan bahwa pengendalian Ganoderma harus dilakukan secara terpadu. Upaya tersebut tidak cukup hanya dengan pemupukan berimbang dan peningkatan bahan organik tanah, tetapi juga perlu didukung pemanfaatan mikroba non-patogen, aktivator enzim, serta riset lanjutan seperti identifikasi metabolit penanda toleransi Ganoderma dan protein kanal kalium untuk mendukung program pemuliaan tanaman.

“Ganoderma sering muncul sebagai penyakit lanjutan yang dipicu oleh patogen lain atau kondisi tanah yang tidak sehat. Karena itu, fokus kita seharusnya bukan hanya mematikan patogen, tetapi memperkuat tanaman dan ekosistem tanahnya,” tegas Witjaksana.