Bisnissawit.com — Pemerintah terus memperkuat tata kelola industri kelapa sawit nasional melalui penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini bersifat wajib. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing komoditas sawit Indonesia di tengah berbagai tekanan dan dinamika pasar global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai penguatan standar keberlanjutan merupakan langkah penting agar produk sawit Indonesia tetap diterima di pasar internasional sekaligus mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.
“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelolanya harus kuat dan berkelanjutan, serta didorong ke arah hilirisasi agar manfaat ekonominya semakin luas,” ujarnya.
Menurut Amran, transformasi di subsektor perkebunan perlu diarahkan pada pengembangan industri turunan. Dengan demikian, komoditas sawit tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi dapat menjadi fondasi bagi penguatan industrialisasi nasional.
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan bahwa sawit Indonesia memiliki keunggulan dari sisi produktivitas dan efisiensi lahan dibandingkan minyak nabati lainnya. Saat ini luas areal perkebunan sawit mencapai sekitar 16,83 juta hektare, dengan proyeksi produksi CPO pada 2025 mencapai 48,12 juta ton, sehingga Indonesia tetap mempertahankan posisinya sebagai produsen utama dunia.
Selain menjadi penyumbang devisa negara, industri sawit juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Lebih dari 16 juta orang bergantung pada sektor ini, termasuk sekitar 5,2 juta pekebun rakyat.
Roni menambahkan, pemerintah terus memberikan pendampingan kepada pekebun melalui berbagai program, mulai dari peremajaan sawit rakyat (PSR), dukungan sarana dan prasarana, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pengembangan riset. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan peningkatan produktivitas berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan.
“Sawit menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, produktivitas dan keberlanjutan harus berjalan beriringan,” kata Roni.
Ia pun optimistis bahwa melalui penguatan standar keberlanjutan serta pengembangan industri turunan di dalam negeri, posisi sawit Indonesia akan semakin kuat sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional sekaligus kontributor penting bagi kebutuhan pangan dan energi dunia.