20 Mei 2025
Share:

Bisnissawit.com – Peningkatan tarif pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dari 7,5% menjadi 10% mulai 17 Mei 2025 diperkirakan akan menekan margin keuntungan dan laba bersih perusahaan-perusahaan sawit.

Meski demikian, analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai masih ada peluang investasi menarik, terutama pada emiten dengan ketergantungan ekspor yang rendah dan efisiensi operasional tinggi, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

“TAPG patut diperhatikan karena memiliki porsi ekspor yang kecil, sehingga risiko terhadap dampak kebijakan ini lebih minim,” jelas Ekky dikutip dari Kontan, Selasa (20/5/25). Ia juga menambahkan bahwa efisiensi operasional TAPG memungkinkan perusahaan tetap menjaga margin meskipun menghadapi tekanan global. Ia mematok target harga TAPG pada kisaran Rp1.000 – Rp1.060 dalam jangka pendek hingga menengah.

Sementara itu, SSMS dinilai menarik dari sisi valuasi dan konsistensi kinerja. Struktur biaya yang efisien dan kemampuan menghasilkan profit yang stabil membuat SSMS mampu tumbuh di tengah tekanan industri. Target harga saham SSMS diproyeksikan mencapai Rp1.900 – Rp2.000 apabila tren positif terus berlanjut.

Kendati ada emiten yang relatif tangguh, Ekky mengingatkan bahwa tekanan terhadap industri sawit tetap ada. Ia memperkirakan penurunan laba bersih secara sektoral bisa mencapai 5% – 10%, atau lebih buruk jika harga CPO dunia tak segera membaik.

Salah satu emiten yang dinilai paling rentan adalah Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMAR), yang memiliki eksposur ekspor hampir 50% dari total penjualan. Kenaikan tarif otomatis memotong margin perusahaan ini secara signifikan.

Ekky menyarankan investor mempertimbangkan emiten seperti TAPG dan SSMS untuk strategi investasi yang lebih defensif di tengah ketidakpastian tarif dan harga global.

Baca Juga:  China Buka Akses Pasar Untuk Minyak Sawit

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kebijakan ini kemungkinan berlangsung jangka menengah hingga panjang. Beberapa perusahaan mungkin terdorong meningkatkan volume produksi untuk menutup margin, namun hal ini berpotensi menciptakan oversupply yang justru menekan harga CPO di pasar global.

Meskipun belum ada tanda-tanda penguatan harga, Ekky memperkirakan harga CPO global pada 2025 akan berada di kisaran US$3.760 – US$4.250 per ton. Ia menambahkan bahwa sentimen positif tetap ada, terutama dari permintaan domestik yang kuat dan dukungan program biodiesel pemerintah. Namun, tantangan dari peningkatan pasokan global dan persaingan dengan minyak kedelai juga perlu dicermati. (*)