10 Oktober 2025
Share:

Bisnissawit.com – Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri Kerajaan Belanda David van Weel menandatangani nota kesepahaman (MoU) tahap kedua program National Initiative for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholder (NISCOPS). Penandatanganan ini juga melibatkan Pemerintah Inggris sebagai mitra kerja sama trilateral. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk memperkuat komitmen produksi minyak sawit yang berkelanjutan serta meningkatkan produktivitas petani kecil, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan dunia.

    NISCOPS merupakan program kerja sama antara Pemerintah Belanda dan Inggris yang dijalankan oleh Solidaridad dan IDH (The Sustainable Trade Initiative). Program ini dirancang untuk membantu negara produsen sawit, termasuk Indonesia, agar dapat memproduksi kelapa sawit yang ramah iklim, efisien, dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta Perjanjian Paris.

    Melalui inisiatif ini, kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani mandiri, dan perusahaan perkebunan akan difokuskan pada lanskap perkebunan kelapa sawit dengan tingkat kepemilikan petani kecil yang tinggi. Daerah-daerah ini sering menghadapi tantangan dalam proses sertifikasi dan penerapan praktik keberlanjutan. Oleh karena itu, NISCOPS diharapkan dapat mendorong perbaikan tata kelola lahan, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta peningkatan kesejahteraan petani dan pekerja di sektor sawit.

    Selain di tingkat lokal, program ini juga menyasar pasar minyak sawit global, termasuk India yang saat ini mengonsumsi sekitar 13,5 persen minyak sawit dunia. Minyak sawit merupakan komoditas penting bagi ketahanan pangan India karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan minyak nabati lainnya. Melalui NISCOPS, ketiga negara berharap dapat memastikan pasokan minyak sawit yang berasal dari sumber yang bertanggung jawab dan dapat diverifikasi keberlanjutannya.

    Penandatanganan NISCOPS tahap kedua ini menandai kelanjutan diplomasi ekonomi hijau Indonesia di sektor strategis sawit. Kerja sama tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang berkomitmen terhadap praktik keberlanjutan.

    Baca Juga:  Petani Sawit Labuan Batu Menyanggah Pengurusan STDB yang Katanya Gratis