14 Agustus 2025
Share:

Bisnissawit.com – Tiga badan usaha milik negara (BUMN) yakni PT Pertamina, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) resmi menjalin kerja sama untuk memproduksi energi baru terbarukan (EBT) dari minyak kelapa sawit mentah (CPO). Dilansir dari Kompas.id, Jumat (15/8/25) disebutkan salah satu langkahnya adalah mengonversi sebagian kilang Pertamina agar dapat mengolah minyak sawit menjadi bahan bakar nabati (biofuel).

Kesepakatan ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama PTPN III Dolly P Pulungan, dan Direktur Utama RNI B Didik Prasetyo di Pekanbaru, Riau, Selasa (19/3/2019). Penandatanganan turut disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno dan Gubernur Riau Syamsuar.

Rini menjelaskan, kilang Plaju di Sumatera Selatan dan Dumai di Riau akan dikonversi sebagian untuk memproses CPO. Salah satu produk yang dihasilkan adalah avtur untuk pesawat. Langkah ini juga sejalan dengan target penerapan B50 (biodiesel dengan 50% CPO) dan B100 (biodiesel 100% CPO).

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina, Heru Setiawan, menambahkan bahwa tahap awal pengolahan di dua kilang tersebut akan memanfaatkan sekitar 1 juta ton CPO per tahun. Kapasitas ini akan ditingkatkan menjadi 5 juta ton, dan dikembangkan hingga mencapai 15 juta ton CPO.

Rini menegaskan bahwa program biofuel ini tidak mengganggu proyek Revitalisasi Kilang Indonesia atau Refinery Development Master Plan (RDMP), karena kedua program akan berjalan terintegrasi. Kilang tetap memproses minyak fosil, sementara di lokasi yang sama dibangun fasilitas pengolahan biofuel. Di Dumai, kilang yang sudah ada akan ditingkatkan kapasitasnya sekaligus dilengkapi fasilitas pengolahan CPO.

Untuk pasokan CPO di kilang Dumai, PTPN V akan menjadi pemasok utama. Rini meminta agar pasokan juga melibatkan kebun plasma milik rakyat.

Baca Juga:  8 Produk Turunan Kelapa Sawit, Dari Minyak Goreng, Es Krim Hingga Skincare

Direktur PTPN V, Jatmiko K. Santosa, menyatakan kesiapan mendukung program ini dengan produksi CPO sebesar 541 ribu ton per tahun dari kebun inti, belum termasuk pasokan dari plasma dan petani rakyat. PTPN V memiliki lahan sawit seluas 86 ribu hektar dengan produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 1,3 juta ton per tahun dari 12 pabrik berkapasitas total 575 ton per jam. Produktivitas TBS pada tanaman menghasilkan mencapai rata-rata 21,94 ton per hektar, dan ditargetkan naik menjadi 24,08 ton per hektar.

Rini juga membuka peluang kerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD) melalui skema bisnis ke bisnis, tanpa menggunakan APBN.

Selain itu, pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan kontrak pengadaan dua kapal tunda berkapasitas 2 x 1.800 HP antara PT Pelindo I dan PT DOK & Perkapalan Surabaya untuk kebutuhan operasional Pelindo I di Dumai. (*)